Satelit Nusantara Satu

Kesuksesan peluncuran satelit Nusantara Satu 22 Februari 2019 lalu, mengingatkan saya dengan suasana peluncuran satelit Palapa di tahun 70an. Prof.Iskandar Alisyahbana merupakan sosok yang menjadi benang merah dikedua peristiwa ini. Meskipun beliau sudah berpulang tahun 2008 silam. Prof. Iskandar merupakan pencetus dari SKSD (sistem komunikasi satelit domestik) Palapa [1] sekaligus pendiri PT Pasifik Satelit Nusantara, perusahaan pemilik satelit Nusantara Satu.

Satelit Nusantara Satu ini awalnya akan diproduksi oleh divisi satelit Boeing akan tetapi setelah 12 bulan, kontrak tersebut dialihkan SSL yang menyanggupi mencarikan kargo tambahan untuk berbagi ruang kargo di dalam roket Falcon tersebut.

Jadi, satelit Nusantara Satu ini memiliki berat total 4,7 ton dan maksimum beban yang dapat diangkut roket Falcon 9 adalah 8,3 ton. Jadi masih ada sisa 3ton++ yang dapat dijual ke pemilik satelit lainnya. SSL kemudian menggandeng SpaceFlight, perusahaan yang mengelola sistem berbagi tumpangan untuk roket ke orbit. Semacam Expedia untuk penjualan tiket pesawat, menurut direkturnya. Kemudian SpaceFlight mencarikan kargo tambahan sehingga pengguna roket dikenakan biaya lebih murah ketimbang haru mengeluarkan biaya untuk kargo yang tidak terpakai.

Satelit Nusantara Satu ini menggunakan sistem propulsi tenaga listrik ketimbang propulsi kimia karena dapat mengurangi beban ratusan kilogram. Kelemahannya adalah propulsi tenaga listrik membutuhkan waktu lebih lama ketimbang yang kimia. Untuk kasus ini, propulsi dengan motor listrik memerlukan waktu bulanan untuk mencapai posisi akhir di orbit geostationer dibandingkan propulsi bahan bakar/kimia yang hanya membutuhkan waktu mingguan.

Dari media kit yang disediakan SpaceX [2], kargo tambahan yang berbagi tumpangan dengan Nusantara Satu adalah kendaraan ruang angkasa, Beresheet, milik SpaceIL, organisasi antariksa Israel, yang akan terbang menuju Bulan dalam waktu 2 bulan. Misi Baresheet sendiri adalah melakukan penelitian dan mengirimkan data-data terkait fenomena medan magnetik di Bulan.

Kargo lainnya adalah satelit mikro S5 milik Laboratorium Riset AU Amerika (AFRL) yang dikembangkan oleh Blue Canyon Technology. Misi S5 akan berjalan selama 1 tahun dalam rangka pengembangan GEO catalog dan Space Situational Awareness.

 

Ref.

[1] https://nasional.tempo.co/read/151490/mengenang-iskandar-alisjahbana-teringatsatelit-palapa

[2] https://www.spacex.com/sites/spacex/files/nusantara_satu_press_kit.pdf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s