Sedikit Cerita tentang Pak Tifatul

 Jumat lalu, setelah rapat nyaris seharian, ada seorang kenalan yang bercerita tentang pengalaman kerjanya. Dari awalnya mengerjakan proyek-proyek Perumtel hingga mengurusi scadatel di PLN.

Sekitar tahun 80an, kenalan ini mendapat instruksi untuk mengerjakan proyek di P3B (Pusat Pengaturan dan Penyaluran Beban) Gandul. Saat itu masih bernama P2B. Tepatnya di pusat kendali yang beratap miring. Di sana, kawan ini bertemu dengan Tifatul Sembiring yang saat itu bekerja sebagai karyawan PLN dan menjadi tandemnya selama pekerjaan tersebut.

Memang, jika dilihat dari riwayat hidupnya, Tifatul sempat bekerja di PLN dari tahun 1982-1989. Dari keterangan yang ada, Tifatul mengundurkan diri karena sempat kesulitan membagi fokus antara pekerjaan dengan dakwah.

Menurut kawan ini, selain alasan diatas, Tifatul mundur karena merasa dikekang akibat pilihan politiknya saat itu. Orde Baru saat itu melalui Korpri (Korps Pegawai RI) “mewajibkan” seluruh PNS untuk memilih Golkar saat pemilu. Dan hal tersebut tidak dilakukan oleh Tifatul dan 2 orang pegawai PLN lainnya. Jadi, perkembangan karirnya terhambat. Meskipun kinerjanya terbilang moncer karena dia adalah salah seorang yang terlibat secara teknis dalam pengembangan scadatel di P2B Gandul saat itu. Karena rekan-rekannya sudah ada yang menjadi Kasie di unit lain, beliau masih tetap berkutat di posisi yang sama.

Selepas dari PLN, kawan saya ini tidak pernah bertemu hingga berjumpa di suatu acara pernikahan keluarga karyawan P2B. Saat itu, Tifatul sudah menjadi Presiden PKS yang kemudian akhirnya diangkat menjadi Menkominfo.

Tahun 2000an, saya pernah membaca alasan dibalik penggunaan jabatan Presiden untuk posisi ketum PK dan PKS. Untuk mengantisipasi rintangan orde baru yang mengharuskan bahwa calon presiden haruslah sudah berpengalaman menjadi presiden. Maka dipergunakanlah istilah presiden tersebut.

Sayangnya, dari 5 presiden PKS yang sudah ada, 2 berujung menjadi menteri. Jika di tahun 2014 ini, PKS mampu menembus 3 besar, posisi sebagai oposan bisa menjadi pilihan menarik. Dengan pembentukan kabinet bayangan yang mampu mengkritisi dan memberi solusi secara rasional, diharapkan pada tahun 2019 atau 2023, presiden PKS bisa menjadi Presiden RI.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s