Handry Satriago: Nasihat Untuk Peniti Karir

Beberapa waktu yang lalu, seorang kawan menyarankan untuk mengevaluasi perjalanan karir setiap 5 tahun sekali. Sepertinya si kawan ini cukup terinspirasi oleh metoda Repelita ( Rencana Pembangunan Lima Tahun) ala Orde Baru. Menurutnya, evaluasi 5 tahunan ini berlaku bagi orang yang bertipe kutu loncat atau setia pada satu / sedikit perusahaan.

Kebetulan, pada 5 Februari lalu, Handry Satriago menuliskan beberapa pengalamannya yang saya rasa cukup berharga bagi teman-teman yang masih meniti karir.

Tantangan para peniti karir awal adlh move dari nice person-wonder kids menjadi org yg ready to take responsibility to lead. Peniti karir seringkali merasa perlu punya authrority agar bs lebih hebat. Well, authority come with accountability. The most important things yg jangan sampai lepas dari para peniti karir awal adalah value of learning.

Job hopper tak lg menarik buat employer. They are looking for someone who possess the depth of the skill.. Jadi job hopper krn ngejar gaji gede, akan kena stuck pada waktunya. Mending kejar knowledge and networknya dulu.

Customer relationship is no longer a strategy. It is a standard industry. Need to move to customer engagement. Agar bisa bersinar, peniti karir awal jangan cuma bisa dekat dgn boss, but show what value do you bring to the company.

Dlm suatu meeting, yg bisa “bersinar” bukanlah yg ngomongnya banyak, tp yg omongannya give values to the meeting itself. Tentunya diam saja dalam suatu meeting tak memberi value kpd meeting tsb…*apalagi tidur!*

Ketika mulai bekerja, jangan menunggu semua hal harus diajarkan oleh atasan. Learning is an active process. Find suatu “area” dlm kerja yg the boss tak kuasai benar (mungkin krn sibuk), be a master di area tsb, and you will shine!

Ukuran peniti karir sdh mendapatkan “tempat” di perusahaan: people come to you to ask about what you are mastering

Jadi fast tracker is good. Bahaya laten fast tracker adlh lupa ttg inclusiveness. Cuma mau deket sama para boss aja. Dlm bekerja itu perlu inclusiveness. Kalau pengennya exclusive, ntar keabisan temen. The more kita inclusive, the more kita dpt informasi, the more jg kita dpt support dari org2x di sekeliling kita. Asik2x aja sama semua org…value boundaryless itu ga rugi kok…udah ga jamannya juga org takut2x sama yg pake dasi dan jas. Juga udah ga jaman harus marah2x sama semua org biar ditakutin…salah2x ntar malah kena sue “work harrasment” lho..😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s