[Ulasan] Dead Mine

Beberapa hari belakangan ini, nyaris setiap sore Jakarta diguyur hujan dengan intensitas yang bervariasi. Jika hujang turun menjelang jam pulang kantor, hampir bisa dipastikan jalanan meningkat level kemacetannya. Seperti halnya rabu pekan lalu. Melihat lalu lintas yang tetap pada selepas Maghrib, saya putuskan mampir sejenak di bioskop di kawasan Setiabudi. Sebenarnya ada pilihan lain di sekitar kantor, yaitu Pejaten atau di Kota Kasablanka ( yang sekilas mirip gedung perpustakaan ITB😀 ).

Mempertimbangkan kepadatan rute dan jadwal tayang yang tersedia, saya putuskan untuk menonton film Demi Ucok. Salah satu alasan yang melatarbelakangi adalah, dengar-dengar, ada alumni ITB yang terlibat dalam proses pembuatan filmnya. Betul, ini wujud apreasiasi sesama alumni G10😀. Tak dinyana, sampai di tujuan, film sudah berjalan 15 menit dan kursi yang tersedia hanya di bagian bawah. Ok, saya fikir, film ini akan saya saksikan kali berikutnya. Dan beberapa waktu kemudian, film ini memicu kontroversi di salah satu kelompok pendukung klub sepak bola.

Ada 2 pilihan film yang masih belum dimulai penayangannya dan jatah kursinya  masih cukup banyak. The Impossible dan Dead Mine. Keduanya belum pernah saya baca ulasannya, jadi saya terbilang awam terhadap kedua film ini. Kesan pertama yang saya tangkap dari The Impossible adalah film Mission Impossible atau film dengan jenis yang sama. Entah kenapa, perasaan saya mengatakan bahwa film ini akan membosankan. Akhirnya saya pilih film kedua, Dead Mine. Mungkin akan sedikit menegangkan di malam Kamis itu.

Setelah menukar tiket dengan sejumlah rupiah, saya segera mencari ulasan singkat di internet. Ternyata film ini mengambil latar belakang pencarian harta karun dari jaman penjajahan Jepang di Indonesia diramu dengan sedikit fiksi (inginnya) ilmiah. Oke, mungkin akan menarik dari sisi cerita. Sekarang pemerannya, Ario Bayu, hmm belum pernah dengar. Mike Lewis ( seperti nama atlet), Joe Taslim ( kira-kira ada keseruan yang  serupa dengan The Raid atau Fast & Furious 6? ), Jaitov Tigor ( ini film aksi horor atau komedi)? Disamping ada gabungan pemain asing lainnya.

dead mine

Betul, poster filmnya seperti gambar di atas. Mengenai jalan cerita tidak akan banyak saya tuliskan. Khawatir mengurangi minat anda untuk menyaksikan film ini. Selain itu, cukup banyak ulasan yang memberikan bocoran jalan cerita film ini. Sedikit komentar saja kemudian akan ditutup dengan penilaian akhir.

1. Jaitov Tigor, perannya yang lebih banyak mengandalkan aksi otot ketimbang bicara memang beberapa kali meledakkan tawa penonton di sekitar saya. Mungkin mereka teringat peran kocaknya di sinetron Suami-Suami Takut Istri.

2. Joe Taslim, mungkin dia kelelahan paska syuting The Raid dan Fast & Furious 6 sehingga aksi bela dirinya tidak tampak di film ini. Saya hanya bengong saat Aryo ( Joe Taslim) berteriak keras saat diserang makhluk misterius di gua Jepang.

3. Ario Bayu dan Mike Lewis, saya tidak banyak komentar. Karena saya tidak banyak tahu karya mereka sebelumnya. FTV mungkin?

4.Berbeda dengan bangsa Indonesia yang lebih suka memapas bukit,  setahu saya Jepang terkenal dengan kemampuan teknisnya untuk membuat lorong menembus bukit, gunung atau area bawah tanah. Bisa jadi hal itu yang membuat sutradara untuk mengambil sebagian besar adegan di dalam gua bawah tanah Jepang. Saya yakin, jika sutradara mau sedikit bereksplorasi dan berimajinasi, akan banyak pilihan lokasi yang lebih menegangkan di luar gua ketimbang di dalam gua. Misal, di belantara hutan ataupun di sepanjang aliran sungai.

5. Di adegan saat konsultan keamanan Inggris dan peneliti Jepang bertemu dengan seorang tentara Kerajaan Jepang yang sudah bersembunyi selama 75 tahun, sepertinya itu adalah bagian yang membosankan. Terutama saat gadis Jepang menerjemahkan pertanyaan dari orang Inggris tersebut dan jawaban dari tentara Jepang itu. Sepertinya adegan tersebut berlangsung lebih dari 10 menit. Jika anda ingin menguji kemampuan berbahasa Inggris dan Jepang sekaligus, saya rekomendasikan adegan ini.

6. Eksplorasi tentara Jepang dengan jubah kebesaran samurai juga terbilang dangkal. Karena pergerakan pasukan berjubah besi tersebut lebih menyerupai robot ketimbang sebagai tambahan penyuntik adrenalin bagi penonton. Kemunculannya di gudang tertutup disertai musik yang pas, terbilang sempat memunculkan harapan untuk lonjakan adrenalin. Sayangnya harapan itu pudar 5 menit kemudian.

Secara umum film ini saya beri nilai 6 dari skala 10. Tetapi nilai ini saya turunkan menjadi 5 karena ada komentar seorang penonton di akhir film.

Lah, gitu doang?

4 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s