10 hal tentang kontrak proyek konstruksi

Meski hari libur, tampaknya milis migas Indonesia tetap terlihat alirah pengetahuan baru. Berikut isi surel dari pak Kristiawan yang cukup menarik bagi praktisi manajemen proyek. Isinya saya salin tempel langsung, komentar menyusulūüėÄ . Yang jelas seringkali pengelolaan proyek terhambat karena hal-hal dasar.

Rekan Milis,
Sudah lama nggak melihat diskusi dengan topik PMT, mudah-mudahan posting tentang Construction Contracting ini bisa jadi pembuka untuk diskusi PMT yang lain.
Prinsip dasarnya contract, semua project risks adalah tanggung jawab Employer. Employer kemudian men-transfer sebagian resiko (pekerjaan) ini kepada pihak lain yang lebih ahli melalui mekanisme contract / subcontract.
Jika proses ini berjalan lancar, pekerjaan akan selesai lebih cepat dan lebih murah dibanding dikerjakan sendiri. Disamping, tentu saja, sang Employer bisa konsentrasi pada bidang yang menjadi keahliannya. Adakalanya proses contracting tidak berjalan baik, sehingga yang terjadi malah proyek selesai terlambat, Employer РKontraktor berselisih tentang kontrak kerja, atau pekerjaan selesai dengan mutu dibawah standard yang diharapkan.
Tahun 1996, William Badger & Steven Gay dari Arizona State University mewawancara para professionals tentang lessons learned dalam construction constructing. Hasilnya disajikan dibawah ini :
1. Dokumentasi proyek
Dokumentasi proyek yang baik sangat berguna dalam mengatasi perselisihan. Dokumentasi proyek bisa berupa minutes of meeting, progress report, foto, dsb.
2. Gunakan standard contract
Menggunakan standard format kontrak yang umum digunakan (FIDIC, AGC, AIA, etc) akan mengurangi potensi salah paham / beda intepretasi dari dua pihak. Juga, mengurangi potensi klausul penting terlewat / lupa dimasukkan dalam kontrak. Jika standard format kontrak tidak dapat digunakan, disarankan meng-hire ahli kontrak konstruksi untuk me-review kondisi kontrak sebelum tandatangan agreement.
3. Klausul arbitrasi
Dalam mengatasi perselisihan, arbitrator konstruksi yang berpengalaman lebih memahami permasalahan konstruksi dibanding dengan hakim umum. Dengan demikian, keputusan bisa diambil lebih cepat dan lebih murah.
4. Klausul pembayaran
Klausul pembayaran yang detail dalam kontrak sangat penting. Ini akan memastikan pembayaran akan dilakukan dengan benar dan tepat waktu. Konsekwensi dari late payment atau kondisi yang memungkinkan aplikasi liquidated damages (LD) umumnya juga tercantum disini.
5. Bekerja dengan pihak yang baik reputasinya
Para responden memilih untuk bekerja dengan¬†Kontraktor (& Employer) yang baik reputasi-nya. Kontraktor yang baik mungkin bukan the lowest bidder, tapi bisa memberikan keyakinan kepada Employer bahwa pekerjaan akan selesai tepat waktu dan dengan kualitas yang diminta. Juga mengurangi stress bagi Employerūüôā
Kontraktor biasanya juga punya catatan tentang reputasi Employer dalam hal waktu pembayaran, fairness dalam menangani kontrak, dst.
6. Review kontrak sebelum tandatangan
Kontrak kerja perlu dibaca teliti dan dimengerti sebelum ditandatangani. Selain klausul kontrak, disarankan kedua pihak juga me-review dengan cermat gambar / spesifikasi pekerjaan dan berkunjung ke lokasi kerja.
7. Klausul change orders
Change orders diperlukan sebagai catatan perubahan lingkup pekerjaan dari kontrak awal. Dokumen change order harus menjelaskan jenis kerja tambah/kurang dengan akurat, serta biaya Рwaktu yang dibutuhkan. Change order juga harus disetujui oleh authorized personnel.
8. Familiar work
Para responden berpendapat, sebaiknya perusahaan konstruksi melakukan bid terhadap pekerjaan yang familiar untuknya. Maksudnya bidang pekerjaan maupun skala proyeknya.
Jika ingin ekspansi ke bidang lain, disarankan mulai dari pekerjaan dengan nilai relatif kecil. Jika menginginkan skala proyek lebih besar, sebaiknya dilakukan bertahap dari nilai proyek yang biasa dikerjakan.
9. Jaga hubungan baik
Hubungan profesional yang baik akan “mengundang” prospektif Clients. Salah satu cara efektif menjalin hubungan yang baik adalah aktif / berkontribusi di asosiasi profesi.
10. Ethical conduct
Perusahaan yang dikenal baik etika kerjanya punya kemungkinan lebih besar untuk menerima tawaran kerja & repeat orders, dikenali dan mendapat perlakuan baik dari pihak-pihak yang bekerja di industri tersebut.
Cukup mengejutkan bahwa ternyata top 10 lessons learned-nya terdiri dari hal-hal yang sederhana atau malah basic. Hal sederhana seperti ini perlu jadi perhatian pada saat kita terlibat dalam kontrak. Sehingga tidak jadi ganjalan dalam pelaksanaan proyek dan kemudian masuk ke catatan project lessons learned.
Sumber : The Top Ten Lessons Learned in Construction Contracting, William W. Badger & Steven W. Gay, Cost Engineering Vol. 8 no. 5, May 1996
salam,
Kristiawan
Mersudi Patitising Tindak, Pusakane Titising Hening

2 Comments

    1. Sebenarnya kav 2 sudah melakukan hal itu. Kalau dengar ceritanya, mereka merayap dari bawah sebagai subkon proyek distribusi kemudian meningkat menjadi main kontraktor. Sayangnya tidak ada kesinambungan transfer pengetahuan, pengalaman dan manajemen yang mumpuni. Haha bahasanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s