Merpati Yang Terus Mengangkasa

Kamis lalu, terminal 1 bandara Soetta terlihat sedikit lebih ramai ketimbang hari biasanya. Puncak arus mudik diprediksi akan terjadi pada hari Kamis dan Jumat. Jika riuhnya terminal 1 di hari biasa sering disamakan dengan keramaian di terminal Kampung Rambutan, tentu terbayang bagaimana keramaian pagi itu.

Kecepatan awak kabin mengatur kesiapan penumpang di dalam pesawat, antrian di landasan menjadi faktor yang membantu menjaga ketepatan waktu keberangkatan pesawat. Jadi, jika kita diminta untuk memasuki kabin sesuai urutan yang ditentukan, jangan terlalu diprotes lah.

Mendarat di bandara Raden Inten II, Lampung beberapa menit lebih awal dari jadwal. Memang rute dari Cengkareng-Tanjung Karang lebih pendek ketimbang rute sebaliknya. Sepertinya rute ke Jakarta lebih memutar. Terlihat ada beberapa penumpang yang berfoto di depan pintu masuk ke bandara. Bisa jadi baru pertama kali ke Lampung atau memang kolektor foto-foto di bandara.

Berjalan ke arah pengambilan bagasi, terdengar suara baling-baling yang cukup keras. Selintas mirip dengan pesawat ATR 72-500 ute Pomalaa-Makassar. Terlihat tulisan Merpati di badan pesawat. Bentuk pesawat yang asing dan warna cat yang terbilang kusam, sempat terpikir bahwa itu pesawat jenis lama. Seperti Fokker atau DC😀. Hasil pencarian di internet membuktikan dugaan saya salah.

Ternyata pesawat yang saya lihat adalah MA 60 produksi Xian Aircraft. Sayang saya tidak sempat mengambil gambarnya. Sebagai perbandingan, saya tampilkan foto model yang sama sebagai ilustrasinya.

Foto pesawat MA 60 (ilustrasi). Sumber: trijayafmplg.net

Keputusan Merpati untuk terus mengangkasa di tengah ekspansi Lion Air, bangkitnya Mandala Air, mandirinya Citilink serta akuisisi Batavia Air oleh Air Asia patut diacungi jempol. Ibarat botol bertemu tutup, strategi Merpati untuk bertahan di bisnis penerbangan akhirnya tidak bertepuk sebelah tangan.

Keputusan BJ Habibie untuk kembali terjun ke bisnis penerbangan melalui PT Regio Aviasi Industri akan menjadi batu pijakan yang baik untuk perkembangan Merpati dan maskapai sejenisnya. N250 yang akan disesuaikan dengan kebutuhan bisnis penerbangan saat ini, ditargetkan mendapat sertifikat layak terbang dari FAA.

Sebagai negara kepulauan, transportasi udara disamping transportasi laut sangat diperlukan sebagai jembatan antar pulau. Maraknya bisnis mineral dan energi di daerah mendorong pertumbuhan bandara dan angkutan udara perintis. Sehingga istilah jalur kering untuk rute perintis bisa disimpan sebagai catatan sejarah.

Sulawesi saja, sebagian kabupaten terutama yang jauh dari ibukota provinsi sudah berinisiatif untuk membangun bandara sendiri. Sebagai contoh, bandara Sangia Nibandera, Kolaka, Sultra, pada tahun 2010 hanya memiliki 1 jadwal penerbangan ke Makassar. Sejak tahun 2011, jadwal penerbangannya sudah ditambah menjadi 3 kali dalam sehari, seiring dengan maraknya pengangkutan nikel ore ke luar negeri.

Bisa jadi, Merpati akan berhadapan dengan Wings Air yang fokus ke rute-rute berpenumpang di bawah 70 orang, tetapi di atas Susi Air yang rata-rata berpenumpang 7-12 orang sekali penerbangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s