Menjadi Staf Ahli

Beberapa waktu yang lalu, seorang kawan bercerita bahwa dia baru saja diangkat menjadi staf ahli. Staf ahli direksi di salah satu BUMD. Menurut kawan saya ini, tren yang berkembang di pemda adalah menjadikan unit-unit pelayanan teknis ke arah pengelolaan secara profesional. Salah satu jalan yang ditempuh dengan menjadikan sebagai BUMD.

Anda tentu terbayang bagaimana pelayanan pemda selama ini. Selain menyerap dana apbd yang cukup besar, pelayanannya pun masih jauh dari memuaskan. Ada beberapa hal yang menjadi penyebab masalah pelayanan di atas:

1. Kompetensi sumber daya manusia yang tidak memadai terutama untuk di level manajerial.

Spesifik untuk kasus kawan saya di atas, rata-rata sdm di level manajerial merupakan karyawan karir dari level eksekutor lapangan. Bahkan cukup banyak yang merintis dari level paling bawah. Memang cukup baik jika dilihat dari sisi loyalitas. Tetapi akan berakibat buruk jika level manajerial karir tersebut tidak mau mengembangkan diri. Meskpiun sudah bertitel direktur, tetapi tetap menanti perintah dari direktur utama.

Sebagai staf ahli, kawan saya berencana memberi kesempatan untuk berkembang dengan membuatkan sistem  pengambilan keputusan yang kokoh dan fleksibel. Jika masih belum bisa mengembangkan visi perusahaan dengan baik, bisa jadi direkomendasi untuk di geser ke level bawah dan diganti oleh sdm yang lebih mumpuni.

2. Budaya perusahaan yang belum mendukung

Berbicara mengenai budaya perusahaan, salah satu rujukan yang masih hangat adalah kultwit bung Handry yang bisa dibaca di sini. Satu hal yang saya pelajari, budaya perusahaan tidak bisa dibentuk dalam sehari atau sepekan. Baik melalui pelatihan dengan cita rasa motivasi ataupun tempelan poster yang memenuhi dinding kantor. Langkah pertama yang rasional adalah meleburkan budaya perusahaan yang diinginkan dalam aturan tertulis dan prosedur kerja di perusahaan. Aplikasi dalam keseharian oleh jajaran manajerial, diskusi formal bulanan antara level manajerial dan eksekutor sampai diskusi informal di pantry atau musala.

Sang staf ahli sempat mendapat kesulitan saat akan membuat prosedur kerja di bumd tersebut. Bayangkan, saat ditanya berapa waktu yang diperlukan untuk membuat 1 prosedur kerja yang sudah lumrah mejadi keseharian mereka? 3 minggu. “Opo ndak mumet saya pak”, ujar sang staf ahli sambil nyengir.

Padahal yang diminta merupakan pekerjaan yang sudah dilakukan sehari-hari dan cukup dituangkan dalam bentuk tertulis saja. Entah jadi berapa lama waktu yang disepakati akhirnya.

Selain membentuk sistem dan budaya perusahaan yang profesional, staf ahli ini juga bertugas membenahi aspek pemasaran dan rantai suplai logistik. Bayangkan saya, dengan unit usaha sebanyak 70an , keuntungan bersih yang disumbang hanya berkisar 3-5 miliar. ” Masih kalah dengan perusahaan saya, pak”, cetus kawan saya.

Selain sudah berpengalaman mengelola perusahaan, level pendidikan s2 dan s3 dalam bidang manajemen menjadi pertimbangan sang direktur utama dalam memilihnya sebagai staf ahli. Sembari menunjukkan surat penunjukkannya sebagai staf ahli, dia sempat mengatakan bahwa tawaran sebagai direktur pun sempat didapat. Tetapi atas pertimbangan kepraktisan dan tanggung jawab yang harus diemban, tawaran tersebut ditolak dan pilihan sebagai staf ahli yang akhirnya diambil.

Yang terpenting jangan salah memberikan alamat email saja pak, 😀 .

Jika ditawari menjadi staf ahli, apakah anda berminat?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s