Menulis Aceh

Ini kunjungan ketiga saya ke Aceh. Setelah sebelumnya bolak balik Aceh – Jakarta dalam 1 hari, setidaknya kali ini bisa merekam suasana Aceh dalam tulisan.

Berangkat ke Aceh beberapa hari setelah gempa 8.5 SR memang mengkhawatirkan keluarga besar. Jalan-jalan atas biaya dinas sangat sayang untuk dilewatkan jika yang dihadapi adalah panorama seperti Aceh.

bandara iskandar muda

Dilihat dari angkasa, pantai sekeliling Aceh menawarkan kejernihan yang mempesona. Bisa jadi tsunami 2004 turut mengembalikan kebersihan lingkungan pantai dan lautnya. Tinggal menunggu perbaikan hutan bakaunya. Sedikit rasa khawatir muncul saat ditawari untuk menengok pantai Ulele barang sejenak. Khawatir akan terjadi gempa dan kemungkinan tsunami yang masih terngiang.

Lagi-lagi sayang jika dilewatkan. Toh jarak 10 menit dari pusat kota Banda Aceh, masih terbilang layak untuk ditempuh. Sayang kamera digital tidak terbawa dalam perjalanan kali ini. Jadi pemandangan indah hanya sempat terekam dari kamera ponsel yang terbilang pas-pasan.

Menurut kawan yang menemani, dari pantai Ulele ini bisa terlihat pulau Weh yang dahulu terdapat pelabuhan  bebas Sabang. Kawan ini pada awal tahun 2000an pernah mendapat tugas untuk membawa mobil-mobil impor dari Singapura. Sebagian mobil tersebut dibawa hingga ke Medan. Tentu saja saat pelabuhan masih berstatus sebagai pelabuhan bebas.

Setidaknya ada tiga hal yang menjadi pengingat kejadian tsunami 2004 yang lalu.

Masjid Baiturrahman

Masjid Raya ini menjadi salah satu tempat berlindung warga kota saat tsunami 2004 dan gempa beberapa waktu yang lalu. Info dari seorang kawan, di bawah masjid ini terdapat pesantren atau madrasah yang tidak dimasuki air bah saat tsunami 2004 yang lalu.

Entah kenapa foto di atas terlihat blur meskipun saya tidak menggunakan efek pada kamera.

Selain masjid raya ini, Aceh membangun museum Tsunami tidak jauh dari masjid ini. Sayangnya saat ini, museum belum bisa dikunjungi karena sedang renovasi akibat gempa beberapa waktu yang lalu.

Perjalanan saya alihkan ke museum PLTD Apung yang terseret 7 km dari pinggir pantai. Sayangnya kedatangan saya tidak bertepatan dengan jadwal kunjungan yang ada.

PLTD apung ini menggunakan mesin Wartsila 46 sebagai penggerak mulanya. Bahan bakar diesel. Saat ini mesin Wartsila 46 sudah dipindahkan ke PLTD Leung Bata untuk didayagunakan kembali.

Menurut cerita, ada 2 orang kru kapal yang meninggal saat tsunami. Karena kedua orang ini memilih meninggalkan kapal saat terjangan air bah berlangsung. PLTD Apung ini juga sempat menolong beberapa warga yang dilintasi saat PLTD Apung ini terseret ke pusat kota. Entah berapa rumah yang diterjang PLTD Apung ini.

ACEH sering disebut sebagai akronim dari Arab, Cina , Eropa dan Hindu ( India). Sehingga urusan kuliner tidak perlu diragukan lagi. Selain Mie Aceh Razali, ada menu gulai dan kari yang perlu anda coba. Seperti foto di bawah ini.

Menu Makan Siang ala Lambaru

Menu makan siang di atas di ambil dari salah satu rumah makan di daerah Lambaru. Sekitar 10 menit dari bandara arah ke Banda Aceh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s