Sisi Manajemen dari Organisasi Nirlaba

Selama di bangku kuliah, saya selalu melibatkan diri di setiap pelaksanaan Idul Qurban. Lebih banyak ke arah pemotongan kurban ketimbang jadi panitia pelaksanaan shalat Ied. Jika dipikir lagi, keterlibatan dalam kepanitiaan ataupun organisasi di kampus merupakan pemanasan sebelum masuk ke dunia kerja. Bahkan jenjang karir pun secara implisit sudah diterapkan semenjak di bangku kuliah.

Saya pernah menjadi survey engineer  yang bertugas melakukan pemetaan dan pengkajian daerah-daerah penerima hewan qurban. Sebelum dilakukan survei, koordinasi dilakukan terlebih dahulu dengan rohis / ldd (lembaga dakwah departemen) se fakultas. Bisa juga dengan GAMAIS selaku organisasi rohis level kampus.

Kemudian tantangan berikutnya adalah proposal engineer dan sales engineer. Karena tugasnya tidak terlampau berbeda jauh, maka fungsi ini sering dirangkap. Secara umum, bertugas untuk membuat proposal kegiatan ke ketua jurusan dan berupaya menjual kambing atau sapi yang ditawarkan ke dosen atau senior jurusan.

Yang paling seru adalah Site Manager , karena kesuksesan saat eksekusi acara bergantung kepiawaian dalam berkoordinasi baik internal tim maupun dengan pihak eksternal. Seperti masyarakat sekitar dan tim penyembelih. Kemampuan negosiasi sangat dibutuhkan. Kerap kali masalah non teknis muncul diluar dugaan. Karena ada tambahan nama calon penerima kurban yang muncul di hari pelaksanaan. Belum lagi kehadiran “tim pembeli kulit hewan kurban” yang entah dapat informasi dari mana mengenai acara kurban tersebut.

Memang yang paling berat adalah posisi project manager , selain mengendalikan jalannya acara via site manager, PM atau pimpro juga harus berkoordinasi dengan tim logistik dan pembelian. Memastikan bahwa kurban yang dibeli sesuai yang ditawarkan ke konsumen. Dan memastikan operasional tidak bermasalah. Karena seringkali biaya operasional ditanggung oleh tim lapangan. Maklum bujet operasional seringakali tidak masuk dalam anggaran dan malu juga untuk memasukkannya.

Beres di pelaksanaan, masih ada hal terakhir yang menunggu. Laporan pertanggungjawaban. Saya pelajari hal ini dari salah seorang rekan, Dian. Dia sangat menekankan hal yang satu ini. Untuk menjaga kepercayaan dari klien khususnya dosen di jurusan. Laporannya sendiri tidak terlampau susah untuk dikerjakan tetapi seringkali dipandang sepele.

Fragmen kampus ini teringat saya saya menyelesaikan buku Room to Read di atas. Buku yang direkomendasi seorang ibu saat di Togamas Bandung tahun 2009 yang lalu. Dari covernya, sudah terlihat sangat menarik, seorang eksekutif di Microsoft meninggalkan karirnya untuk membangun 7000 perpustakaan di pelosok dunia. Inspiratif dan ditulis dengan cara yang menarik.

Berawal dari pendakiannya di Himalaya dan perjuangannya untuk membantu anak-anak usia sekolah yang kesulitan untuk mendapatkan bahan bacaan berkualitas. Panduan yang menarik jika anda sedang membangun usaha sosial yang senada.

Dari keseluruhan cerita perjalanannya, ada 1 bab yang sangat menarik menurut saya. Bahwa gaya manajemen Microsoft sangat menginspirasi John Wood dalam menggerakkan Room To Read.

Setidaknya ada 4 budaya yang diadopsi dari Microsoft, terutama saat John Wood berinteraksi dengan Steve Ballmer.

1. Fokus pada hasil (dan menceritakannya ke orang lain).

Prinsip ini sejalan dengan laporan pertanggungjawaban yang dibuat di akhir kegiatan. Tujuan utamanya adalah mempertahankan kepercayaan dari klien kami. Disamping sebagai bahan evaluasi untuk kegiatan mendatang.

2. Serang idenya , bukan orangnya.

Diceritakan selama perjalanan Steve Ballmer di Vietnam, Steve selalu memperlakukan koleganya dengan bijak dan rasa hormat. Dia lebih bersedia menyerang hasil kerja yang biasa-biasa ketimbang menyerang secara personal.

3. Digerakkan oleh data

Data..data dan data. Jika anda mampu mematri data-data pekerjaan di alam bawah sadar anda, maka anda akan berhasil di dunia Steve yang digerakkan oleh data dan kinerja.

4. Loyalitas

Steve sangat paham cara membuat orang untuk loyal kepadanya. Ada 2 cerita menarik yang John Wood ceritakan di bagian akhir bab “Microsof Nirlaba”.

Dari keempat budaya tersebut, saya rasa semuanya layak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Baik di dunia kerja maupun kehidupan bermasyarakat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s