November di kota Dili

Antri Visa On Arrival

Bulan November lalu saya berkesempatan ke Timor Leste. Negeri jiran di sebelah tenggara Indonesia. Tujuan resminya adalah mempersiapkan acara peresmian pembangkit listrik yang disuplai oleh kantor saya. Tujuan tidak resminya memperbanyak cap imigrasi di visa😀.  Ada 2 pembangkit yang akan dan sudah dibangun oleh kantor. Pembangkit pertama berlokasi di Hera. Kawasan perbukitan berjarak 30 menit dari kota Dili. Pembangkit kedua akan dibangun di Betano. Keduanya menggunakan mesin diesel. Bahan bakar yang dipergunakan solar atau High Speed Diesel. Kedepannya, pemerintah Timor Leste sedang menyiapkan bahan bakar MFO yang lebih murah.

Ada beberapa penerbangan yang melayani rute ke Timor Leste. Beberapa diantaranya adalah Batavia, Merpati dan Silk Air. Untuk Batavia dan Merpati, pesawat transit di Denpasar. Sedangkan Silk Air berangkat dari Singapura. Selain itu ada beberapa Maskapai yang melayani rute ke Australia.

Setibanya di bandara Timor Leste, layanan Visa On Arrival sudah menanti. Selain biaya sebesar 30 USD, paspor dan form isian yang diberikan saat dipesawat perlu disertakan. Prosesnya terbilang cepat termasuk saat dicap di loket imigrasi. Kemungkinan masalah muncul saat pemeriksaan acak terhadap barang bawaan. Jika anda kedapatan membawa barang yang dicurigai akan dijual kembali di TL dan tidak disertai bukti pembelian, bisa jadi urusan di bandara akan sedikit panjang.

Saat akan berangkat ke Dili, TL, pertanyaan yang muncul berkisar kondisi keamanan di sana. Selain pertanyaan mengenai Raul Lemos tentunya. Media memang cukup berperan dalam memunculkan sosok Raul Lemos diatas Bapak Tua Xanana Gusmao dan Ramos Horta saat berkunjung ke Indonesia tempo hari. Secara umum, kondisi keamanan di Dili terbilang kondusif. Meskipun masih banyak mobil dan pasukan PBB yang berseliweran di pusat kota. Mayoritas mobil yang ada merupakan tipe mobil offroad. Info tidak resmi, harga pasaran mobil terbilang murah, dibawah 100 juta rupiah untuk kelas 4 WD. Bekas tentu saja. Sayangnya, mobil tersebut tidak dapat dijual ke Indonesia.

Bahasa resmi adalah Portugis dan Tetum. Tetum sendiri adalah bahasa daerah Timor. Indonesia masih banyak yang menggunakannya ternyata. Rata-rata warga usia 17 tahun ke atas masih fasih berbahasa Indonesia. Entah untuk anak usia sekolah, apakah masih diajarkan atau tidak. Baik di sekolah maupun di rumah. Dolar Amrik / USD menjadi mata uang yang berlaku di TL. Geli juga rasanya membaca harga-harga makanan bercita rasa Indonesia dengan rate dollar. Selalu mengkonversi harga menu ke rupiah sebelum memutuskan untuk memilih. Harga barang kebutuhan sehari-hari sedikit lebih tinggi ketimbang Jakarta, terutama yang masih diimpor dari Indonesia. Surabaya merupakan pelabuhan yang banyak memasok barang ke Timor Leste.

Selain itu melihat penduduk yang bertransaksi dengan lembaran dollar lusuh, ingin tertawa saat teringat bagaimana pedagang valas di Jakarta yang memberikan kurs berbeda sesuai kondisi fisik uang dollar.

Ada beberapa warung yang menjual makanan khas Indonesia. Warung Solo, Surabaya dan Padang. Untuk warung kedua, saya belum pernah mencobanya. Warung pertama, memang dijalankan oleh orang Solo. Menurut penuturannya, dia sudah mulai bedagang di Dili sejak tahun 80an. Saya belum sempat bertanya mengenai kewargangeraannya maupun pilihannya saat Referendum akhir tahun 90 an yang lalu. Warung ketiga dijalankan oleh orang Dili sendiri. Rasanya sangat datar tetapi lumayanlah. Yang cukup menjadi perhatian adalah nasinya. Mungkin jenis padinya berbeda, sepintas mirip beras untuk nasi kebuli. Tidak melekat satu sama lain.

Masih ada beberapa hal yang ingin saya tuliskan, tetapi akan saya sambung di edisi berikutnya.

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s