Membagi PT.KAI

Tadi malam, saya menerima sms dari keluarga tentang lowongan kerja di PT.KAI. Bisa dicek disini. Informasi tersebut mengingatkan kehebohan yang muncul beberapa hari yang lalu. Seputar sidak ala Dahlan Iskan sebagai Menteri BUMN terhadap pelayanan kereta api di ibukota. Heboh, karena Dahlan Iskan muncul tanpa pengawalan / protokoler sama sekali, setidaknya itu yang muncul di media massa. Sekilas saya memang melihat kehadiran istrinya yang selalu setia mendampinginya.

Sepengetahuan saya, amat jarang pejabat setingkat menteri, di luar Departemen Perhubungan, yang melakukan sidak semacam ini tanpa ada persiapan sebelumnya oleh protokoler. Dari informasi beberapa rekan, KAI sedang mengalami perbaikan yang cukup signifikan, diharapkan dengan daya dorong yang diberikan Dahlan Iskan, perbaikan tersebut bergerak semakin cepat. Memang masih banyak kritik yang muncul tentang KAI. Hal yang sangat sulit dihindari oleh institusi yang bermetaformosis dari Perjan, Perum kemudian Perseroan. Tetapi tidak ada kritik yang tidak bisa diselesaikan. Optimisme itu harus tetap dikibarkan.

Salah satu isu menarik yang berkembang adalah pemecahan PT.KAI. Di perhubungan udara, bandara di urus oleh PT. Angkasa Pura. Sedangkan wahana transportasi udara diurus oleh masing-masing maskapai. Begitu pula di perhubungan laut. Ada Pelindo sebagai pengelola pelabuhan, di sisi lain Pelni dan perusahaan pelayaran swasta lain berperan sebagai operator kapal.

Dan hal serupa bisa diterapkan di moda transporatasi kereta api ini melalui PT. KAI. Ada perusahaan yang mengelola stasiun kereta beserta jalur rel kereta. Ada pula yang berperan sebagai operator kereta. Kompetisi pasti akan muncul terutama jika pihak swasta diberi kesempatan untuk mengelola.

Toh, untuk kepentingan publik segala macam alternatif perlu dipikirkan dan dilaksanakan sebagai tindak lanjut pelayanan kepentingan masyarakat. Jika hal ini berhasil dan mampu membuat kepentingan publik terlayani dan perusahaan kereta api hidup sehat, bukan tidak mungkin akan banyak unbundling di BUMN lainnya. Dan itu wajar selama kepemilikan mayoritas masih dipegang oleh negara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s