Cerita di Pulau Tidung

terkadang kehidupan menghadirkan kejutan yang aneh

Pagi ini, seperti biasa, saya melahap blog menarik yang sudah 5 hari tidak saya sentuh. Salah satunya bercerita tentang pulau Tidung . Sudah 2 tahun lebih di Jakarta rasanya sayang juga jika tidak menyempatkan diri berkunjung ke kepulauan Seribu.

Berawal dari ajakan seorang kawan yang sedang berkeliling Jawa Barat, untuk menemaninya ke etape terakhir di kepulauan Seribu. Sayapun berkonsultasi dengan istri mengenai rencana tersebut. Beda memang, jika masih bujangan. Cukup berkonsultasi dengan kondisi fisik dan penasihat keuangan😀 .

Setelah mendapat ijin dari istri, saya dan kawan saya tersebut memutuskan untuk berangkat ke Pulau Tidung. Salah satu pulau yang sedang naik daun diantara gugusan kepulauan Seribu.Lazimnya, jika mendengar kepulauan Seribu yang langsung teringat adalah pulau Pramuka.Menurut kawan yang sudah cukup lama bergaul di milis backpacker , setidaknya ada 3 pulau besar di sana. Selain Tidung dan Pramuka, ada pula pulau Untung Jawa. Sebenarnya masih ada beberapa pulau lagi yang menawarkan beragam tujuan wisata menarik, hanya saja kita harus menggunakan jasa ojek perahu dari pulau utama menuju ke pulau dengan beragam obyek wisata menarik tersebut.

Ada 2 titik pemberangkatan menuju pulau Tidung. Pertama dari pelabuhan Marina Ancol, kedua dari pelabuhan Muara Angke. Berhubung jalan-jalan ini edisi  backpacker ekonomis, tentu lucu jika kami bermewah-mewah selama perjalanan. Diputuskan, berangkat dari pelabuhan Muara Angke.

Hanya ada 1 kali pemberangkatan dari Muara Angke dalam sehari. Menurut informasi , kapal yang ada akan berlayar jam 7 pagi waktu nahkoda😀 . Di pelabuhan Angke ini, tersedia beberapa rute pelayaran menuju kepulauan Seribu termasuk ke pulau Pramuka.

Rute darat yang kami tempuh untuk menuju pelabuhan Muara Angke adalah : Cawang – Grogol via bus P6 . Dilanjutkan dengan Grogol – Angke via angkot merah 01 . Jika tidak terjadi kemacetan disekitar Muara Angke, sopir angkot akan mengantar anda tepat di titik pemberangkatan kapal. Sayangnya kami harus berjalan terlebih dahulu, dengan membawa informasi dari sopir, bahwa kami harus menemukan spbu pertamina terlebih dahulu. Karena letak pelabuhan pemberangkatan tepat disebelah spbu tersebut.

Sepertinya cukup banyak orang yang akan bepergian dan menginap di kepulauan Seribu akhir pekan ini. Terlihat dari banyaknya orang yang turun dari kendaraan pribadi mereka dan menenteng logistik yang cukup melimpah. “Semoga mereka tidak memenuhi pulau Tidung”, bisik saya dalam hati.

Beberapa puluh meter berjalan, kami berada dalam jalur unloading hasil tangkapan nelayan. Syaraf di hidung ini sudah mulai waspada. Dan benar saja, tidak berapa lama kemudian, saya harus menahan nafas karena aroma yang ditimbulkan mengingatkan saya akan aroma rendaman cucian berpekan-pekan. Atau aroma sungai di jakarta yang sudah diluar batas kewajaran.

Saya lihat kebelakang, teman saya mulai sedikit ragu dengan jalur yang kami pilih. Dan dibelakangnya lagi, ada segerombol anak muda tanggung yang celingak-celinguk saat kami berdua berhenti. Entah karena jalur yang salah atau aroma yang semerbak ini. Tidak mau berlama-lama, kami putuskan untuk bertanya kepada salah satu penghuni pasar pelabuhan itu. Ternyata kami harus berbelok ke arah kanan, dan setelah berjalan beberapa saat, akhirnya terlihat spbu yang ( mungkin ) dimaksud oleh supir angkot tadi.

Tidak jauh , terlihat pula antrian orang dengan pakaian santai untuk berwisata yang sudah mengular. Sepertinya kegelisahan sudah menghinggapi benak kawan saya itu. Khawatir kami tidak mendapat tempat dikapal sepertinya.

Jangan pernah percaya dengan asumsi, adalah salah satu prinsip yang diajarkan di kampus dahulu. Dengan sedikit dag dig dug, kami menerobos masuk lorong tempat antrian tersebut menumpuk. Anehnya diantara lorong dan pelabuhan tidak banyak antrian seperti di depan tadi. Lolos dari antrian itu, kami mencari-cari loket untuk pembelian karcis kapal. Tidak terlihat  sama sekali.

Tepat didepan kami , ada 2 bagian pemberangkatan. Disebelah kiri, kapal-kapal yang akan diberangkatkan lebih banyak jumlahnya. Begitu pula jumlah penumpangnya, serasa melihat kereta api edisi mudik lebaran. Sedangkan disisi kanan, kapal hanya ada 3 – 5 buah dan penumpangnya juga belum terlalu banyak. Kami putuskan ambil yang kanan. Meskipun ini edisi ekonomis, tetapi kenyamanan harus masuk dalam prioritaslah.

Sepertinya kawan saya sudah tahu situasi seperti ini, jadi dia sudah terlihat lebih tenang ketimbang saat kami masih mencari jalur menuju pelabuhan dengan waktu yang terbatas. Meskipun terlihat mulai banyak penumpang yang masuk kapal dengan membawa tiket berwarna-warni, kami tetap teguh menuju salah satu kapal. Bertemu dengan salah satu awak kapal, kami bertanya apakah masih ada tempat kosong kepadanya. “Berapa orang”, tanya si awak kapal. “2”, jawab saya dengan tersenyum. Yang tentu saja disambut , ” Langsung masuk pak”. Tidak berapa lama kemudian awak kapal tersebut berbincang-bincang dengan rekannya mengenai keterlibatan kami di kapal tersebut. Beres.

Setelah mengambil tempat di dekat mesin kapal, barulah kawan saya bercerita . Kapal yang kami tumpangi saat itu adalah non-reguler. Jadi wajar saja, kapal ini lebih lengang ketimbang kapal reguler. Penumpang kapal ini umumnya menggunakan agen perjalanan, terlihat dari tiket yang mereka bawa. Bahkan di kapal , kami bertemu dengan salah satu kelompok yang mengular di luar tadi.

Mereka menggunakan seragam berupa kemeja putih, dengan tulisan ” proud of 3 ” di saku kemejanya. Hal yang terlintas pertama kali, adalah kelompok tersebut adalah karyawan salah satu operator telekomunikasi atau anak SMU ? Tetapi melihat tampang sebagian besar anggota kelompok tersebut yang terbilang matang di pohon, buru-buru ide tersebut saya hapus dari pikiran.

Kelompok tersebut berkisar 15 orang, dengan komposisi pria wanita yang cukup seimbang. Kaum pria menempatkan diri di garis luar kelompok tersebut. Mungkin untuk keselamatan kaum wanita di kelompok mereka. Atau kaum wanitanya saja yang ingin mencari tempat bersandar di dinding kapal. Entahlah, yang jelas di dekat kami tidak terlihat ada seorang pejantan dari kelompok tersebut. Mungkin mereka percaya dengan tampang edisi ikhwan hanif kami😀 yang tidak memiliki niat atau pikiran jahat.

Di tengah perjalanan, salah seorang anggota kelompok tersebut mengeluarkan logistik mereka.Dan terlihat beberapa kotak makanan mulai diedarkan. Terlihat dari sudut mata saya, nama produsen makanan tersebut terlihat dari sudut mata. Dan terpampang Bogor sebagai asal dari makanan tersebut. Hmmm, tidak memberikan pencerahan rupanya. Diperlukan informasi tambahan. Sayangnya sampai menginjakkan kaki di Pulau Tidung, kami belum berhasil mengungkap asal kelompok “proud of 3” tersebut.
-Investigation is part of your life, Fox Crime-

Perjalanan Muara Angke – Tidung ditempuh sekitar 2 jam.

Sesampainya di Tidung, kawan saya bertemu dengan teman saat SMU dulu. Ternyata dia di Tidung melalui agen perjalanan juga. Dan menurut kawannya juga, untuk akhir pekan, mustahil akan mendapat tempat penginapan kosong jika tidak memesan terlebih dahulu. Pusing memikirkan itu, kami memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu. Sembari mencari informasi penginapan yang kosong. Dan jawaban serupa pun kami dapatkan. Bahkan untuk sewa sepeda ataupun peralatan snorkling. Sebenarnya kami sempat mendapat tawaran sebuah rumah penginapan kosong, tetapi menurut si pemilik cukup jauh jalannya. Tidak terlalu tertarik dengan jawaban si bapak tersebut, kami menanyakan jadwal keberangkatan kapal dari Tidung. Ternyata jam 13.

Sebenarnya kawan saya tidak keberatan untuk tidur di tepian pantai. Tetapi saya sedikit menolaknya, mengingat jika informasi saya menggelandang tersebut bocor, bisa jadi saya tidak akan dapat berjalan-jalan sesuka hati lagi. Akhirnya kami putuskan untuk mengelilingi pulau tersebut dalam waktu 2-3 jam . Termasuk mengunjungi pulau Tidung Kecil dan ikon Jembatan Cinta-nya.

Sepertinya pengunjung Tidung lebih banyak terfokus di Jembatan Cinta dan kawasan untuk snorkling. Karena sepanjang perjalanan menyusuri garis pantai, tidak banyak orang yang kami temui. Pasirnya putih, sayang banyak sekali sampah yang berserakan. Abrasi garis pantai memang terlihat di sepanjang pantai, karena penanaman bakau yang dilakukan oleh salah satu LSM tampaknya tidak dirawat secara serius.

Berjalan menyusuri pantai memang cukup berat, tetapi sesekali merendam kaki di air laut bisa menjadi terapi yang cukup menyegarkan. Hanya ada satu BTS telekomunikasi di di pulau Tidung. Jadi, jangan pakai provider tersebut jika anda benar-benar ingin berlibur di pulau Tidung.

Sudah lama kami berjalan, hampir jam 12, tujuan kawan saya belum terlihat juga. Bertanya ke penduduk, memberikan jawaban yang mengkhawatirkan. Menurut mereka , dari posisi kami saat itu, dibutuhkan waktu hingga 2 jam untuk mencapai Tidung Kecil dan jembatan cinta. Sekali lagi, kami tidak mau terjebak oleh asumsi. Karena rentang waktu jauh – dekat, itu sangat relatif.

Dan benar saja, tidak sampai 1 jam, kami berhasil mencapai kedua ikon tersebut. Tentu saja dengan tenaga ekstra, maklum kami harus berjalan sangat-sangat cepat.Rupanya kawan saya itu sudah terlatih berjalan setengah berlari saat dia harus membagi waktu antara asistensi di laboratorium dan kuliah pada waktu yang sama.

Jembatan Cinta adalah jembatan kayu yang menghubungkan antara pulau Tidung dan Tidung Kecil. Tidak banyak yang istimewa dari jematan tersebut. Selain anda dapat berfoto diatasnya, melihat dasar laut yang lumayan dangkal serta melompat dari jembatan tersebut. Jauh dari bayangan awal saya, yang mengira bentuk jembatan tersebut akan mengambil simbol cinta. Ah,itu hanya berlaku untuk bujangan seperti kawan saya itu.

Dodolnya, saat kami sudah mencapai ujung jembatan arah Tidung Kecil, kawan saya tidak mau difoto dengan pose menginjak daratan Tidung Kecil. “Sama saja “, gumamnya. Saya hanya bisa menghela nafas sembari mempersiapkan tenaga untuk mengejar kapal terakhir yang akan membawa kembali ke Jakarta. Dengan menumpang ojek seharga 15 ribu, kami berhasil bergabung dengan armada kapal terakhir yang tampak lebih sepi ketimbang pagi tadi.

Tidung memang menarik untuk merenung di luar akhir pekan atau hari libur besar. Sayangnya potensi kuliner lautnya belum digarap secara serius. Mungkin baru dihadirkan malam hari ya ? Keinginan untuk menjajal hidangan laut segar sepertinya harus ditunda terlebih dahulu.

12 Comments

  1. kulinernya emang malem pak, ada cafe – cafe pinggir laut, kita tinggal pilih ikan mana, langsung di masak. Enak, karena ikannya seger – seger.

    Selain Tidung, adalagi pulau di ujung utara. Namanya pulau Kelapa, sayang cuma satu kapal setiap hari yang berlayar ke pulau Kelapa. Pulau nya sendiri masih bagus, karena jarang yang kesana, dan minim fasilitas. Gak ada snorkling, listrik pun nyala dari jam 4 sore sampe jam 7 pagi, tapi karena itu lebih menarik bisa melihat aktivitas warga di luar, warganya juga lebih ramah pulau Kelapa menurut saya.

  2. kapalnya berangkat pukul 7 waktu nahkoda:mrgreen: — kapalnya berangkat pukul 6.50 he he LOL (suka2 nahkoda)

    tentang rombongan 3, kaya’nya mereka mendapat sinyal 3 tewas di pulau tidung😀 saya pakai axis saja tewas sinyalnya😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s