Evolusi ponsel saya

Gadget sering dihubungkan dengan perangkat consumer electronic . Mulai dari komputer, ponsel, pemutar musik atau video sampai ke proyektor . Tulisan kali ini akan membahas evolusi ponsel saya.😀 Pertama kali memegang ponsel, sekitar akhir 90-an. Saat itu ayah saya sudah memiliki ponsel Ericsson seri T . Yang bentuknya flip . Pada tahun 2003, melihat beberapa rekan saya sudah memiliki ponsel dan mereka dengan rewelnya membujuk saya untuk bergabung dalam komunitas pemuda miscall dan sms alias surat menyurat singkat. Jadi ingat dengan fenomena pemintaan pin BB akhir-akhir ini . Tidak tahan dengan kerewelan tersebut, dan ditunjang oleh tabungan yang sedikit berlemak, akhirnya saya berupaya sedikit melangsingkan tabungan saya. Paling tidak, ada 3 orang rekan saya yang mempengaruhi. Pertama, almarhum Sigit Firmansyah dengan Ericsson-nya yang cukup malang karena sering dioprek. Kedua , rekan Firdaus Dandy dengan Nokia nya, yang kerap digoda oleh rekan-rekan satu kontrakan . Ketiga , rekan Bima Ovi dengan merek hape yang sudah tidak saya ingat lagi. Setelah bulat dengan keputusan tersebut, saya menyeret rakan Bima sepulang dari kampus untuk menuju ke BEC ( Bandung Electronic Center ) di jalan Purnawarman. Saat itu, untuk konter ponsel ditempatkan di lantai 2 dan 3 . Mungkin faktor belum makan siang, saya memutuskan hanya melakukan survei harga di lantai 2 saja. Tipe ponsel buruan sudah terlanjur terpatri di hati, Siemens C55 . Fitur GPRS  dan polifoniknya sudah mengalihkan dunia saya saat itu. Maklum dengan dana 1 juta, anda sudah bisa membawa pulang ponsel dengan dukungan dua fitur tersebut. Sedangkan merek-merek yang lain masih mengandalkan fitur-fitur lama. Saat membaca ulasan mengenai ponsel C55 tersebut, saya sempat memprediksi bahwa ponsel tersebut berpotensi menjadi ponsel sejuta umat . Dan terbukti, saat rapat rohis Elektro, saya melihat setidaknya 5 anggota rapat, mempergunakan ponsel tersebut. 3 peserta putra dan 2 peserta putri. Memang warna berbeda tetapi tipe sama😀 . Kembali ke acara perburuan ponsel C55, saya memutuskan berhenti ke salah satu konter yang saya pandang termurah. Entah kenapa, insting saya tidak bekerja dengan baik. Karena beberapa menit setelah melakukan deal transaksi masalah timbul. Pertama, saya memutuskan untuk membeli kartu perdana di konter tersebut. salah seorang pegawai mengambilkan beberapa nomer dari konter sebelah mana gitu. sayangnya yang dia ambil tidak ada nomer cantik dan menawan. Saya pun memilih untuk mengambil 2 digit terakhir NIM saya. Eh, si penjual bilang harganya jadi 75 ribu ( untuk perdana dan pulsa sebanyak 25 ribu ) . Nomer-nomer yang lain dihargai 70 ribu. Saat itu memang, harga perdana saja sudah cukup untuk beberapa kali makan😀 . Masalah kedua, saat saya hendak menukarkan nota pembelian dengan undian di BEC. Petugas BEC meminta saya untuk kembali ke konter tersebut dan meminta cap konter yang menunjukkan alamat konter tersebut di gedung BEC. Akhirnya kembali lah saya ke konter tersebut dan meminta cap tersebut. Tak dinyana, tak disangka, si pegawai konter memberi cap polos. Maksudnya hanya logo dan nama toko tanpa alamatnya di gedung BEC . Malas berpanjang lebar, saya dan Bima memutuskan meninggalkan konter tersebut dan berfikir untuk melihat-lihat situasi di lantai 3. Keputusan yang salah Salah satu prinsip yang saya anut saat berbelanja adalah , jangan pernah melihat atau membandingkan harga barang yang sudah dibeli. Ada potensi kecewa atau sakit hati karena menemukan barang serupa dengan harga lebih miring. Bisa jadi karena kita kurang jeli atau memang belum rejeki si penjual dengan harga miring. Dan saya melakukan kesalahan tersebut. Saat di lantai 3 saya menemukan ponsel serupa dengan harga dibawah ponsel yang sudah saya beli. Selisih harganya lumayan juga. Beberapa minggu kemudian , ratno membeli ponsel dengan tipe yang sama . Dia membelinya di Planet Dago , dengan harga miring yang sama. Beda rejeki.

Ponsel 5 tahun

Saya bukan termasuk orang yang senang berganti produk. Maklum tipe pria setia😀 . Pada pertengahan 2008, berhubung di ibukota, stasiun terbilang banyak, saya memutuskan untuk mencarikan partner bagi C55 . Pilihan jatuh ke Motorola W230 . Belinya di ITC Cempaka Mas, yang jelas penjaga konternya mirip nia paramitha. Co-drivernya rekan ragil, yang akhirnya memutuskan untuk membeli ponsel esia seri Merah Putih. menyongsong hari kemerdekaan tampaknya. atau untuk memudahkan dalam menghubungi salah satu penggemar setianya. Entahlah…

Sayang kebersamaan C55 dan W230 tidak terbilang lama, karena pada lebaran 2008 , adik saya meminta jatah angpau berupa ponsel. dan berpindahlah C55 ke tangan adik saya.

Lebaran 2009, Booming BerryBerry

Beberapa hari setelah mudik dari kampung halaman, mendadak W230 tidak mau hidup. entah tutup baterai yang kendor atau baterai yang sudah drop sekali. Dalam keadaan bingung karena harus menghubungi beberapa orang, saya memutuskan untuk mencari beberapa ponsel yang masuk dalam anggaran darurat. Setelah mencari ke beberapa thread dalam FJB Kaskkus, saya memutuskan untuk mengadopsi HT G30 . Maklum saat itu,s edang booming ponsel BB wannabe atau qwerty . Ponsel yang saya pilih lebih mengadopsi ke arah E 71 . Sepakat harga dengan si penjual, kami janjian untuk COD di Mall Taman Anggrek. Baru pertama kali di sana, dengan cueknya saya berkeliling terlebih dahulu untuk mengenal medan.

Masalah datang lagi, habis qwerty datanglah touchscreen

Sudah beberapa pekan, HT G30 bermasalah dan W230 sudah tidak mau menyala meskipun saya sudah mengganti chargernya. Dapat dipastikan baterainya memang bermasalah. Untunglah kakak ipar bersedia meminjamkan untuk sementara waktu, ponsel bundlingnya . Sambil berhitung dan memperoleh ijin dari istri, saya mencari-cari ponsel asyik untuk di oprek, seperti Spica milik pak Armein di sini . Pernyataan yang saya suka adalah,

Lumayan, buat orang elektro, HP baru bisa mengalihkan rasa sakit, meredakan rasa pusing, dan mempercepat penyembuhan.

OS Androidnya cukup menggoda untuk diutak-atik. Fitur capacitive touchscreen nya menjanjikan pengalaman baru dalam bermain ponsel. Sayang dari sisi layar masih kalah dengan Iphone 3,4″ sedangkan Spica 3,2″ . Selain itu, tidak ada fitur radio dan video call membuat saya berpikir ulang dalam rangka mengakuisisi ponsel ini dari toko. Promosi sebagai ponsel Android termurah masih menggoda saya, sembari menunggu anggaran utak-atik, saya menulis postingan ini .😀

-dibutuhkan beberapa jam dan kesabaran ekstra akibat BSOD –

2 Comments

  1. sudah lama tidak bersua, apa kabarnya sekarang? sekarang sudah berganti ke blackberry atau masih pakai berryberry-an? cheers (your stupid old pal)…..XD

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s