Fedora Core 7 , YUM dan Java

Kembali ke selera asal…
Pertama kali berkenalan dengan sistem operasi Linux saat tingkat pertama kuliah dan beberapa bulan memiliki komputer. Distro pertama adalah Red Hat 7.3 beli dibelakang kampus, dan dibantu tutorial dari majalah Infokomputer dan bantuan dari Agus Andi ( IF 01 ), akhirnya berhasil juga… Puas juga melihat sesuatu yang baru dibandingkan dengan sistem operasi bawaan sebelumnya. Coba utak – atik program, ternyata partisi yang saya sediakan untuk si redhat masih kurang. Akhirnya coba-coba saya perbesar partisi untuk linux. Sukses juga meskipun harus begadang dan format harddisk 2-3 kali.. Paginya, teman-taman yang menitipkan data-datanya marah-marah karena belum sempat saya backup. pelajaran 1 : Jika anda merencanakan untuk memasang sistem operasi Linux, terutama untuk pengguna pertama kali, sangat disarankan untuk mengamankan data-data anda terlebih dahulu, baik menitipkan ke komputer teman maupun menyimpan dalam media CD atau DVD terutama jika anda tidak didampingi oleh rekan yang sudah berpengalaman dalam memasang Linux. Baik menggunakan mode “single-boot” maupun “dual-boot” OS.

Ada kabar dari teman, Linux banyak sekali variasinya. Sering disebut distro atau kependekan dari distribution. Tetapi kalau anda jalan-jalan ke bandung atau jogja, distro bisa berarti distribution outlet ( temannya factory outlet). Saya baru tahu singkatan itu dari seorang teman alumni akademi angkatan udara yang sedang pendidikan di bandung. Kalah gaul ni , hehehe…
Kembali ke perioda coba-coba distro linux, setelah puas dengan Linux RH 7.3 akhirnya mencoba yang versi 8, Suse ( lupa versinya), debian, mandrake , ubuntu dan terakhir suse 10.1 ( distro ini cukup lama bertapa di komputer saya). susah juga sebenarnya untuk menentukan distro mana yang paling baik. Mudahnya sesuaikan saja dengan kebutuhan dan kemampuan komputer masing-masing. Secara umum, variasi distro tidak berbeda jauh dari segi aplikasi yang ada. Rata-rata mereka berbeda di wilayah kustomisasi penampilan, struktur direktori, kestabilan , dukungan komunitas penggunanya, serta kecepatan memperbarui versi distro maupun aplikasinya.
pelajaran 2 : Perbedaan itu adalah rahmat. ehem..ehem jadi anda tidak perlu bingung untuk memilih distro linux yang akan anda pergunakan. Seperti yang sudah saya ungkapkan diatas, sesuaikan saja dengan kebutuhan dan kemampuan komputer anda. satu lagi, anda bisa meminta pendapat serta bantuan rekan-rekan anda yang cukup berpengalaman.

Setelah sekian lama berkawan Opensuse 10.1 meskipun sudah keluar Opensuse 10.3 ( sempat tergoda juga sih ), akhirnya hati mantap untuk memilih fedora core 7. Berbekal dvd repositori extra bonus majalah infolinux oktober dan meminta bantuan ke ratno untuk membakar installer fedora core 7 versi dvd dari salah satu ftp server di ITB ( matur nuwun no), akhirnya kesampaian juga untuk memasang fedora core 7. Sebagai informasi tambahan, fedora core ini merupakan versi bebas dari red hat yang dulu. Pada tahun 2000an, red Hat inc memutuskan untuk menghentikan pengembangan red hat versi desktop / personal. Mereka memutuskan untuk fokus ke segmen enterprise. Maklum nilai kapitalisasi pasarnya jutaan dolar. Tetapi, mereka juga tidak melupakan jasa-jasa komunitas yang sedikit banyak telah membantu membesarkan Red Hat. Red Hat memutuskan untuk mendukung pengembangan Red Hat versi desktop yang akhirnya menjadi fedora core. Fedora core ini di kembangkan oleh komunitas akhirnya. Hal serupa juga dianut oleh distro OpenSuse yang merupakan versi bebas dan gratis dari distro Suse setelah dibeli oleh perusahaan Novel yang dulu berjaya dengan sisop jaringannya Novel Netware.

Pertimbangan pindah ke FC 7 ini semata-mata untuk memudahkan dalam membantu rekan-rekan yang ingin migrasi ke linux IGOS Nusantara. Secara IGOS N ini adalah turunan dari FC. Versi terakhir IGOS N, kalau tidak salah, adalah versi 2006. Akhirnya beres juga memasang FC 7 di komputer. Deennggg, tetapi masalah selalu muncul jika kita mau berusaha , hehehe…
Fitur untuk menambah atau menghapus aplikasi ( add/remove software ) bermasalah, karena selalu meminta koneksi ke jaringan internet. Maklum , sejak menggunakan aplikasi YUM, kita perlu mengkonfigurasikan letak repositori berkas-berkas installer. Selain itu, masalah muncul saat akan memasang aplikasi java compiler dari Sun. Biasanya cukup dengan menambahkan path ke direktori java di berkas .bash_profile, beres. Tetapi, ini tidak mau…  Akhirnya, coba mencari bantuan via internet, alhamdulillah dapat. Pertama untuk permasalahan YUM, setidaknya ada 2 artikel yang cukup membantu saya. Pertama dari Rachmat febrianto ( mahasiswa akprind jogja dan kedua dari Putu Shinoda ( mahasiswa STTTelkom / go-aliya.com). sayang link ke artikelnya tidak sempat saya simpan, tetapi bisa dicari via google. Secara singkat , solusi yang saya dapat dan lakukan adalah :
– pindahkan semua berkas berekstensi rpm ( *.rpm) ke harddisk atau kalau mau , bisa juga menggunakan media dvd yang sudah ada.
– instal / pasang aplikasi createrepo.*.*.rpm
-login sebagai root dengan perintah su
– jalankan perintah createrepo sebagai berikut : createrepo /folder/anda/meletakkan/berkas/installer ( tergantung anda meletakkannya dimana )
-edit berkas-berkas *.repo di /etc/yum.repos.d , ubah semua parameter enabled=0 supaya aplikasi tidak meminta koneksi internet.
-buat berkas baru di /etc/yum.repos.d/ berupa nama_file_bebas.repo dengan isi sebagai berikut :
[localrepo]
name=FC $releasever – lokal repo
baseurl=file///nama_direktori_anda_meletakkan/berkas_berkas/installer
enabled=1
gpgcheck=0
– simpan berkas diatas.
– cek dengan perintah : yum repolist
– jika sudah keluar repositori yang anda buat diatas maka repositori diatas sudah dapat dipergunakan.
Tetapi, yang masih jadi masalah, jika reponya lebih dari satu folder. Misalkan saya memiliki 2 buah repo yang terdiri dari 2 buah folder… Belum ada solusinya…

Tentang java, akhirnya saya berhasil mendapatkan pencerahan dari jetteroheller (http://jetteroheller.wordpress.com/) dari blognya liquidat (http://liquidat.wordpress.com/). Sebenarnya diblog tersebut ada beberapa cara untuk memasang java didalam fc 7. berhubung saya menggunakan installer dengan ekstensi *.bin akhirnya saya pergunakan cara jetteroheller. Mangga…
– pergunakan perintah su
– pindahkan direktori jdk1.6.0 anda ke tempat yang anda inginkan. Saya sendiri meletakkannya di direktori /opt
– buat link antara direktori /opt/jdk1.6.0/bin ke /usr bin dengan perintah :ln -sf /opt/jdk1.6.0/* /usr/bin
cek dengan perintah java -version , jika menampilkan versi yang anda inginkan maka selamat berkarya…

Pelajaran 3 : Namanya juga gratis, jangan cepat menyerah. Hitung-hitung investasi untuk lebih cerdas. Jika teman-teman sekitar / offline tidak bisa membantu, bisa cari di internet atau forum-forum yang anda sukai. Jika dalam bahasa Indonesia tidak ada, insya ALLAH 99% akan ada solusinya dalam artikel-artikel berbahasa inggris

8 Comments

  1. # jaksen sadri :
    memang betul kalo masih susah untuk melepaskan diri dari kultur bajak-membajak tersebut. Belum tahu susahnya untuk menginstall os dan aplikasi secara legal, berapa uang yang harus dibayarkan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s