Logika Sederhana Ahmadinejad

Beberapa hari yang lalu, dapat pinjaman buku tentang Ahmadinejad dari Ika. Karena penasaran tentang buku tersebut, beres dari laboratorium, langsung diserbu. Yah, kira-kira 1,5 sampai 2 jam. Plus dipotong shalat ashar.

Salah satu hal yang menarik adalah, “kengototan” Ahmadinejad via Iran dalam mempertahankan penguasaan teknologi nuklir nasionalnya. Saya kutipkan sebagian… ( hal 185 )
” Bila nuklir itu berbahaya, mengapa ada pihak yang dibiarkan menggunakannya? Bila nuklir itu berguna, mengapa ada pihak yang tidak diperbolehkan menggunakannya ? ”

Yah, memang benar. Seperti yang kita ketahui, teknologi nuklir adalah salah satu teknologi paling keren dimuka bumi, untuk saat ini. Teknologi nuklir bukan hanya untuk pembuatan senjata atau sumber energi semata. Tetapi pengembangannya sudah merambah ke bidang pertanian, pangan, kesehatan dan lain sebagainya.

Jika, suatu negara sudah menguasai pengembangan teknologi nuklir dari hulu sampai hilir, terlebih lagi jika negara tersebut memiliki cadangan bahan baku ( uranium ) yang melimpah,seperti iran, dipastikan negara tersebut akan segera melepaskan ketergantungan di banyak bidang dari negara lain. Dah hal semacam itulah, yang dikhawatirkan oleh Amerika dan negara-negara penentang nuklir Iran lainnya. Mandirinya Iran akan mengurangi pengaruh mereka terhadap Iran. Dan efek berikutnya dengan mudah ditebak…

Disisi lain, penguasaan teknologi sophisticated semacam nuklir ini, akan meningkatkan kepercayaan diri bangsa tersebut terutama generasi mudanya, yang tentu saja , akan mempercepat pengembangan bidang-bidang yang lain, bukan hanya teknologi saja. Karena rasa percaya diri yang dimilikinya.

Penguasaan teknologi gading semcam itu, sudah beberapa kali dilakukan oleh bangsa Indonesia. Pada saat Soekarno berkuasa misalnya. Pembangunan Stadion Senayan ( Gelora Bung Karno ) dalam persiapan menjadi tuan rumah Ganefo, sedikit banyak menimbulkan efek serupa. terutama di bidang konstruksi. Meskipun mendapat kritikan sebagai politik mercu suar.

Pada awal 70an , dengan  satelit Palapanya, yang menimbulkan kekaguman dari negara-negara lain di Asia. Bayangkan, negara Asia pertama yang memiliki satelit. Dan kebanggan semacam itulah yang saya rasakan dari cerita seorang dosen, saat beliau masih kuliah tingkat awal, dalam acara pengarakan miniatur satelit keliling kota Bandung.

Masih ingat dengan N250 ? Yang hari peluncurannya dijadikan sebagai hari kebangkitan teknologi nasional ? Dan sepertinya , resistansi dari negara maju diwujudkan dalam MOU dengan IMF yang mengharuskan pemerintah mencabut subsidi terhadap IPTN , kala itu.

Dan masih banyak logika-logika sederhana lainnya, yang dibawa oleh Ahmadinejad saat masuk ke lingkaran birokrasi. Mulai dari dosen, penasihat Menteri, Gubernur Ardabil, walikota Teheran sampai akhirnya Presiden Iran. Logika-logika kesederhanaan yang teramat sederhana. Merubah rumah Walikota menjadi museum sampai tidak segan-segan menyapu dan membersihkan saluran air yang mampet. Bersih, jujur dan profesional. Kekaguman yang wajar jika telah membaca buku tersebut. Dan rasanya mungkin cukup berat untuk dilakukan …

Logika-logika semcam itu memang tidak asing lagi di sejarah umat Muslim. Sepeninggal baginda Rasulullah SAW ( jangan lupa bershalawat, ya! ), logika-logika semacam itu masih hidup. Salah satunya melalui Duet Umar. Duet antara Buyut dan cicit yang terpisah zaman. Umar Bin Khattab dan Umar Bin Abdul Aziz.

Tentu masih ingat, bagaimana logika yang dipakai Umar bin Khattab saat menghukum anak Gubernur yang memukul seseorang ? Atau bagaimana seorang Umar khawatir saat pasar di Madinah, dikuasai oleh orang-orang non muslim ? Meskipun, dihadapkan dengan fakta bahwa saat itu, umat muslim sudah menguasai jazirah secara global.

Bagaimana dengan logika yang dipakai oleh pemimpin sekaliber Umar bin Abdul Aziz? dengan logika yang sederhana , beliau memilih meninggalkan kemewahan yang pernah diterimanya dan mengembalikan kepada Baitul Maal. Beliau juga memberikan opsi kepada keluarganya , bersama dengannya atau bersama dengan harta bendanya. Lebih memilih memberikan batu panas kepada bibinya ketimbang memberikan harta , karena khawatir , panasnya api neraka akan menimpanya kelak…

Logika-logika sederhana serupa juga muncul di sejarah pergerakan bangsa Indonesia. HOS Cokroaminoto, Agus Salim, M. Natsir, Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, M. Hatta, dll.

Semoga saja , logika yang sederhana tersebut bukan hanya dimiliki Ahmadinejad seorang, tetapi calon-calon pemimpin bangsa inipun turut memilikinya.

7 Comments

  1. Ika? Ika sapa, Mas? Hehee

    Yang menarik dari Ahmadinejad adalah perpaduan antara ketulusan, kesederhanaan, dan sifat revolusioner-nya. Tindakannya berefek menghentak zaman, di tengah rusaknya standar dan batasan-batasan moral.

  2. Akur deh.. Ahmadinejad simbol perlawanan..
    Jangan lupa, ada Ismail Haniya juga. Yang terakhir ini memang masih dalam keterbatasan sumber daya.

    Jadi inget kemarin, ngobrol2 sama orang Iran. Mereka sangat bangga dengan presidennya. Saya bagaimana? Anda? =D

  3. biarpun bukan orang iran, saya juga merasa bangga didunia yang seperti ini masih ada pemimpin suatu negara muslim yang demikian.
    Allahu Akbar!!

    Saya berharap semoga kita semua dapat bersatu berjuang menghadapi sikap tamak imperialis AS dan sekutunya.. Preman2 di muka bumi ini..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s