Perginya Sang Mahaputera dan Mahaguru Berkemeja Putih.

Rabu 15 November 2006, sms dari Irman Idris mengabarkan wafatnya Prof.
Samaun Samadikun. Saya tidak bisa berbohong. Dalam hati kecil ada rasa
terimakasih, beliau sudah bisa beristirahat di pelukan Sang Pencipta.
Kesakitan dan penderitaan fisiknya akibat berbagai pengobatan sudah
berakhir.

Kami berangkat sore itu menuju rumah duka di Kebayoran Baru. Saya memacu
kendaraan merah saya, mencoba meninggalkan mobil biru. Tapi Kastam
Astami di mobil biru tidak bergeming, terus mengekori mobil merah. Mobil
lain yang dikendarai Adi Indrayanto dan Trio Adiono segera tertinggal
jauh, entah belok ke mana dulu mereka itu… Kastam sebenarnya tidak
pernah suka berkendaraan keluar kota, apalagi ke Jakarta. Tapi hari ini
kita akan melihat beliau untuk terakhir kali. Mervin Hutabarat
berkomentar, berapa banyak yang akan berusaha melawat kita seperti ini
nanti ya… OK, belum waktunya bersedih. Kami perlu tertawa sekarang. We
need these laughters for the things to come…

Semua orang tersenyum saat melawat di rumah duka. Jangankan yang
melawat. Yang dilawatpun tersenyum. Semua tenang, seperti sedang
menyiapkan diri . Semua sedang mengumpulkan tenaga untuk menghadapi
hari-hari esok. Hari-hari saat kesadaran penuh menerjang. Saat
kehilangan beliau betul-betul merasuk….

Semua bercengkerama santai. Irman Idris tersenyum bangga karena ia
sempat memandikan beliau. Ah seperti yang tidak tahu saja, semua iri
dengan Irman, anak kesayangan beliau. Bagaimana tidak, pak Samaun licik
nih, menghabiskan waktu terbanyak dengan Irman. Mata Irman merah. Ah
rasakan, ini belum apa-apa, golden boy, tunggu minggu depan setelah
semua tenang.

Malam itu, saya, Mervin Hutabarat, dan Rio Seto berhenti di warung
Cipularang. Kami pesan kopi, karena hari sudah terlalu larut. Dengan
sigap anak muda pelayan warung mengaduk kopi kami. Ah, tahukah engkau
bahwa hari ini seorang mahaputera telah pergi? Tujuhpuluh lima tahun ia
berjuang supaya anak mu menjadi orang pintar dan merdeka. Dan tidak lagi
harus berjualan kopi tengah malam di tengah jalan tol begini.

Mana bisa menulis tentang orang besar ini? Kata-kata yang dipilih tidak
akan cukup dan tidak akan adil. Toh anak-anak didiknya harus memulai.
Budi Rahardjo mencoba mengirim email pagi itu. Ah, blogger nomer wahid
di tanah air tidak mampu melawan kepedihannya. Kata-katanya terhenti.
Onno Purbo banting setir dan menulis wikipedia. Excellent idea, Onno.
Diapun tidak sanggup meneruskannya. Siapa memangnya yang sanggup? Tidak
heran, banyak memilih diam…

Arak-arakan kuda perang bergemuruh. Menaiki gunung dan menuruni lembah.
Sang panglima dengan gagah berani menerjang di ujung terdepan. Ia
menyatakan perang pada keterbelakangan. Ia memusuhi ketertinggalan.
Silicon Valley harus berdiri di Bandung. Mikroelektronika harus
mensejahterakan rakyat. Rakyat harus mendapat lapangan kerja dari
teknologi ini.

Ah, deru perang membahana. Apa kita bisa? tanya bala tentaranya. Ini
teknologi tinggi. Panglima ini Doktor dari Stanford, berguru langsung
pada penemu transistor. Ia penerima royalti dari panten nya di Amerika.
Ia penulis di jurnal Nature. Jadi kalau dia bilang bisa, ya bisa… Sang
panglima hanya tersenyum, mengangkat senjatanya, dan memacu kuda nya.
Ikut aku, bila ada yang harus berkorban, akulah yang pertama…

September 2006. Perang sedang bergemuruh, dan langit memerah. Hawa
Bandung panas. Bala tentara tertegun menegok ke belakang. Mengapa kuda
perang sang panglima menyimpang dan menaiki bukit? Dari kejauhan ia
melambai. Ia memerintahkan pasukan untuk meneruskan peperangan, tapi
semua diam dan menatap nanar. Sang panglima sedang menapaki gunung
keagungan. Gunung Sang Pencipta, Gunung Sang Panglima Yang Maha Tinggi.
Tidak ada kata yang terucap. Semua mengerti, tidak lama lagi ia akan
tiba di pucak. Tugas nya sudah akan berakhir. Markas Besar sudah mulai
memanggilnya pulang….

November 2006. Satu per satu jubah kebesarannya tertanggalkan. Di rumah
sakit MMC, kondisi fisik beliau menurun. Saya tahu dari pak Suhartono
bahwa Eniman Yunus dan prof Adang Suwandi membawa rombongan STEI
menjenguk beliau. Saya harus ikut! Kebetulan Budi Rahardjo dan Pak
Merati bisa mengantarkan kami ke sana sekaligus menjenguk. Wah prof
Samaun, insinyur sejati. Dalam kesakitannya, masih juga ia minta Prof.
Soegijardjo untuk mendesain alat untuk tempat tidurnya. Memang ada pak
Sukrisno dan Pak Sarwoko di situ yang bisa mewujudkannya. Tapi yah, kami
semua tidak mau banyak bicara, panglima harus istirahat. “Take good care
of your health”, katanya sambil menyalami saya. Dua kali dia berpesan
seperti itu, so I better listen. “I will be watching you form above..”
katanya tersenyum. Budi tidak terima, dan dengan cepat menukas, “tidak
pak, kami tunggu makan tiap selasa siang di PAU..!” Rupanya itu
percakapan terakhir…

Di puncak itu ada salju putih. Jubah kebesaran di puncak adalah jubah
putih. Jubah kesederhanaan. Ah, ia sudah menggunakan jubah kesahajaan
ini sejak muda. Ia tahu semua pasukan balatentara memimpikan emas
permata. Ia tersenyum. Ya tentu, tidak ada yang lebih membahgiakannya
daripada melihat semua orang sejahtera. That is the whole idea of this war.

Hmm, is it? Mengapa bapak suka dengan kemeja putih? Gunung-gunung sudah
bapak lewati. Banyak gunung penuh intan permata. Direktur Sarana
Akademis. Dirjen di Departemen Tambang dan Energi. Ketua LIPI. Direktur
PAU-ME.. ok yang ini saya tahu salah-salah bapak bisa tekor, tapi yang
lain itu bukan saja basah… tsunami, pak… Bukan saja kecipratan,
bapak menghindarpun akan basah kuyup.

Tapi kita tahu apa? Soal kaya raya, pak Samaun yang paling tahu. Ketika
beliau lulus di Stanford, Silicon Valley baru mulai. Kalau ia mau, kaya
rayalah beliau di Silicon Valley. Tapi ia memutuskan untuk pulang dan
membangun ITB. Buat beliau, memperkaya bangsa itu jauh lebih penting
daripada memperkaya diri sendiri. Oh boy, how he has lived through this
credo…

Coba saja datang ke rumah Pak Samaun. Lihat sendiri kebersahajaan
beliau. Lihat sendiri dindingnya. Lihat sendiri kursi tamu nya. Lihat
sendiri rak buku nya. Lihat sendiri lah… If you ever need to preach
about living full of integrity, just visit his house for five minutes folks

Tahu tidak, pak Samaun itu selalu mempersilahkan orang lain duluan naik
lift? Bila berpapasan di lorong, ia menepi duluan. (Saya juga begitu
pak, tapi lebih karena takut kecopetan.) Betapa santun nya pak Samaun
ini. Orang kecil pun ia hormati. Di istana atau di kantin mahasiswa, pak
Samaun memperlakukan orang sama. Sepanjang hidup saya, tidak pernah
sekalipun saya mendengar ia menjelekkan orang lain. Either you believe
me or not, I don’t really care.. pokoknya tidak pernah.

Bahkan kami dimarahi habis waktu menggosipi dosen yang sibuk cari uang
dengan mengajar sana-sini. Pertama: pendidik itu tidak boleh diketawai.
Bisa saja dia mengajar karena mencintai murid-muridnya. Kedua: boleh
dong tidak seragam di ITB ini. Apa hak kita untuk membuat orang lain
sama dengan kita? We felt so stupid.

Apa beda guru dengan mahaguru? Guru adalah tempat kita belajar semasa
hidupnya. Mahaguru masih terus mengajari kita bahkan setelah ia wafat.
Ia mengajari akan kekayaan hidup. Ia mengajari tentang memajukan orang lain.

Ini rahasia ya, punten, ketika Prof Samaun harus dibedah di Perth,
beliau butuh USD 25,000. Saya tahu persis pihak keluarga bingung karena
tidak ada dana. Prof. Adang dan Prof Ilse membuka rekening dana
kesehatan untuk beliau pada suatu siang. Wah, belum sempat sore, dalam
hitungan jam, rekening itu sudah berisi lebih dari Rp 250 juta! Pada
saat mereka meminta untuk menghentikan pengiriman dana, dana sudah
mencapai Rp. 400 juta lebih. Pelajaran berharga tentang makna kekayaan!

Ketika ada staf kami kehabisan beasiswa, beliau meminta kita menggunakan
sisa dana kesehatan ini. Wah, no way pak, ini persembahan orang untuk
kesehatan bapak. He was not very happy, but nothing he could do, karena
dulu dia sendiri yang memaksa agar rekening itu tetap dipegang PAU.

Betapa kaya nya Prof Samaun. Semua membantu beliau dengan diam-diam.
Biaya obat dan masuk rumah sakit konon tahu beres. Sya tidak pernah
tahu. Semua mencintai beliau. Semua meninggalkan rumah untuk melawat
rumah duka. Semua sembunyi-sembunyi meneteskan air mata. Semua bertekad
meneruskan cita-cita beliau. Ia menginginkan intan permata buat semua.
Tapi, ia memberi contoh kekayaan yang sebenarnya. Ah, sang mahaguru,
dari liang lahat sekalipun masih juga kami diajari….

Kabar gembira. Pemakaman dipindah ke Taman Makan Pahlawan Kalibata! Ah,
betapa senangnya hati ini. Akhirnya ada juga kebaikan bangsa ini kepada
seorang mahaputera. Seperti biasa, saya tidak pernah tahu apa yang
terjadi. Mesti ada yang menyayangi beliau dan diam-diam mengurusinya.
Terimakasih. .. Terimakasih. …

Di ufuk barat awan kembali memerah… Dari kejauhan ia melambaikan
tangannya. Balatentara melambaikan penghormatan pada panglima besar.
Perang melawan kemiskinan belum selesai, tapi tugas panglima sudah
selesai. Sang panglima sudah kembali menghadap Yang Maha Tinggi, tegap
melaporkan pelaksanaan tugas-tugasnya di medan perang. Ah, Ia sudah
menapaki puncak bersalju itu. Puncak kebesaran dalam kesahajaan. Ia
sudah tiba di sana… panglima kita sudah tiba di sana…

Siapa bilang Tuhan tidak mengasihi bangsa kita. Tuhan maha baik, telah
mengirimkan pada kita seorang mahaguru. Tuhan sungguh baik. Selama 75
tahun Ia memberikan pada bangsa ini seorang mahaputera yang mencintai
bangsa ini sampai ke tulang sumsumnya.

Oktober 2004, prof Samaun tergesa-gesa mendatangi saya. Kamu punya
eulogy untuk Prof. Kudrat bagus sekali. Aduh, dari matanya ia seperti
bertanya: what are you going to write about me? Shut, I am trapped, nih.
Betul kan, seminggu setelah beliau wafat, tidak ada yang bisa ditulis.
Mau tulis apa? Wong konsentrasi kerja saja susah payah begini. Setiap
kata pertama ditulis, pandangan jadi kabur karena airmata tidak mau
kompromi.

Baiklah, saya kira yang bisa saya tulis untuk bapak adalah doa syukur,
terimakasih Tuhan, karena kami sudah diberi Prof Samaun Samadikun.
Terimakasih Tuhan, terimakasih. ..

Bandung, 20 November 2006.
AZRL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s