RSS

Arsip Bulanan: Februari 2012

Pomalaa 1

Banyak yang bisa diceritakan dari kecamatan yang bernama Pomalaa. Sebagai pembuka, saya hidangkan 1  foto Pomalaa di sore hari dengan aroma PLTD.

Cerobong di tengah foto sering disebut stack . Di sisi sebelah kiri terdapat ruang mesinDiesel Power Plant. Sedangkan di sebelah kana terdapat radiator yang berfungsi untuk melepaskan panas yang dihasilkan oleh mesin. Salah satu keunggulan mesin diesel terletak pada kecepatan start-up yang terbilang singkat, kurang dari 5-10 menit daya listrik sudah dapat disuplai ke konsumen.

Selain itu, mesin diesel, untuk merek tertentu, terbilang tangguh dalam menyuplai beban dengan karakteristik “roller coaster”. Perubahan beban minimal ke maksimal dalam hitungan detik ataupun sebaliknya dapat ditangani dengan senang hati. Memang diperlukan metode perawatan yang intensif untuk menjaga kehandalan tersebut.

Kehandalan dalam melayani perubahan beban dalam waktu singkat ini dimiliki oleh PLT Mesin Gas dan PLTA. Belum banyak referensi yang saya dapatkan, tetapi akan segera saya tuliskan lewat blog ini.

Cerita mengenai Pomalaa sendiri akan saya munculkan segera.

 
2 Comments

Posted by pada 23 Februari 2012 in indonesia

 

Kaitkata:

Lu Cabut Patok, Gue Sikat

Patok di perbatasan

Pekik keras yang menjadi judul tulisan ini dilontarkan oleh KASAD Jend. Pramono E Wibowo. Saat Raker dengan Komisi I DPR selasa lalu. Entah retorika sang Jenderal yang mumpuni atau anggota Komisi I yang tercerahkan. Sehingga rata-rata dari mereka mengamini presentasi KASAD. Semoga juga proposal peremejaan pertahanan AD juga disetujui.

Saya sendiri lebih mendukung prioritas peremajaan sistem pertahanan udara dan laut ketimbang darat. Kenapa? Karena kita negara kepulauan. Sehingga lebih banyak celah masuk di laut dan udara yang perlu dijaga ketimbang di darat. Tentu saja peremajaan pertahanan darat perlu diperhatikan dan lebih diprioritaskan di kawasan perbatasan ketimbang di kota-kota besar.

Bicara tentang patok, definisinya bisa dikembangkan lebih luas lagi. Bukan hanya patok perbatasan seperti di gambar atas. Melainkan arti “patok perbatasan” yang merujuk kepada keberadaan rakyat Indonesia di perbatasan.

Beberapa waktu belakangan, Kompas lumayan sering membahas permasalahan di perbatasan dan menaruhnya di halaman pertama. Mulai dari kesulitan yang dihadapi warga perbatasan sampai ancaman utnuk bergabung dengan negeri jiran. Sebagian besar alasannya karena kurangnya perhatian pemda dan pemerintah pusat terhadap nasib mereka di perbatasan. Akses jalan ke negeri tetangga yang lebih dekat ketimbang ke wilayah negeri sendiri. Pasokan barang kebutuhan sehari-hari dari negeri jiran. Dari pasokan listrik yang mahal, karena menggunakan genset dengan solar yang berlipat harganya sampai kemudahan mendapatkan siaran TV tetangga ketimbang TVRI.

“Patok perbatasan” itulah yang harus dijaga keberadaannya. Tugas ini bukan hanya tanggung jawab TNI/Polri saja, tetapi pemerintah  memiliki peran yang sangat besar untuk menjaga “patok perbatasan”.

Kemarin saya membaca situs Indonesia Mengajar dan menemukan salah satu presentasi Anies Baswedan mengenai program IM ini. Program brilian ini mampu menarik ribuan anak-anak muda optimis, cerdas dengan karakter dan integritas tinggi untuk mengajar di pelosok Nusantara selama 1 tahun. Dengan fasilitas yang jauh dari memadai.

Konsep IM tersebut pasti bisa diadopsi terutama untuk PNS ataupun putra daerah yang memiliki semangat pengabdian tinggi dalam menjaga “patok perbatasan” negeri.

 

 
2 Comments

Posted by pada 5 Februari 2012 in indonesia

 

Kaitkata:

Tanpa Macet

Setiap kali mendengar kata macet, hampir pasti diasosiasikan dengan kondisi jalan raya yang nyaris tidak bergerak. Dan Jakarta sekitarnya selalu identik dengan kemacetan. Seorang kawan pernah bercerita tentang 2 usulan untuk mengurangi kemacetan.

1. Membangun pemukiman secara vertikal. Baik itu rusun maupun apartemen. Solusi ini terbilang berhasil di beberapa negara dengan luas wilayah terbatas dan kepadatan penduduk yang tinggi.

2. Mengembangkan transportasi publik / masal yang mumpuni.  Mumpuni dapat diartikan sebagai sistem transportasi yang terkoneksi dengan baik dan jumlah moda transportasi yang mencukupi untuk melayani sekian banyak jumlah penduduk Jakarta. Memang lebih baik menambah armada Trans Jakarta ketimbang memasang portal atau meninggikan pembatas jalur Trans Jakarta. Toh, dengan armada yang banyak dan memadati jalur TJ akan mengurangi jumlah kendaraan pribadi yang melewati jalur TJ tersebut.

Awal kerja di kawasan Bekasi / Cikarang, saya sering terheran-heran dengan determinasi penduduk kawasan luar Jakarta dalam menghadapi kemacetan di tol Halim. Setiap pagi. Lambat laun, saya pun mengalaminya. Ternyata logika berangkat dan pulang kerja melawan arus pun tidak berguna di saat pertumbuhan kendaraan yang sangat pesat seperti malam ini. Sama saja.

.: 3,5 jam lebih dari Cikarang menuju Cawang :. Tidak diperlukan demo buruh untuk memacetkan tol Cikampek ini.

 
7 Comments

Posted by pada 2 Februari 2012 in indonesia

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.104 pengikut lainnya.