Mumpung masih di pulau Sulawesi, saya tuliskan saja opini seorang kawan saat kami melewati patung Sultan Hasanuddin yang terletak di depan bandara Sultan Hasanuddin, Maros. Saya baru sadar kalau rata-rata bandara di Indonesia terletak di luar wilayah ibukota Propinsi.
Kembali ke patung Sultan Hasanuddin yang memiliki nama asli I Mallombassi Daeng Matawang Karaeng Bontomangape, kawan saya bercerita setidaknya ada 3 hal yang diprotes oleh masyarakat Sulsel:
1. Ukuran tubuh yang cenderung “cebol”. Pendapat yang berkembang, Sultan Hasanuddin memiliki postur tubuh tinggi besar dan gagah. Jauh dengan yang terlihat dari patung di sebelah.
2. Sandal yang dipergunakan tidak memperlihatkan riset yang mendalam.
3. Arah patung yang membelakangi pintu bandara. Terkesan tidak sopan, karena membelakangi tamu yang baru datang dari arah bandara. Mungkin maksud si perancang, patung ini dimaksudkan untuk melepas para tamu yang akan meninggalkan Sulawesi Selatan.
Dari beberapa laman yang saya baca, ada juga yang menyoroti ikat/penutup kepala yang digunakan. Kritik senada memang pernah muncul saat proses pembangunan patung Jendral Sudirman di salah satu jalan protokol di Jakarta.
Dalam bekerja, selain ketekunan dalam melakukan riset, keteguhan hati memang sangat diperlukan.

Yoga PS
2 Desember 2011 at 21:01
mana gambarnyaaaaa???
simbangando
2 Desember 2011 at 21:43
Sori bos, tautan tidak bekerja. Sudah diperbaiki sekarang…