RSS

Arsip Bulanan: Desember 2011

Dari Kennedy ke Sinetron

- Ambition is not a vice of little people. – Kutipan dari seorang Michel de Montaigne, seorang penulis sekaligus negarawan di jaman Renaissance.

Sangat menggambarkan kondisi keluarga Kennedy, yang sangat populer di Amerika. Hal tersebut terlihat didalam mini seri Kennedy yang sudah masuk didalam daftar inflight entertainment Garuda bulan Desember ini. Joseph Kennedy Sr, berambisi untuk membawa anggota keluarganya menjadi orang nomor satu di negeri itu. Meski dihadapkan pada fakta bahwa keluarga mereka adalah keturunan Irlandia dan Katolik.

Joseph Kennedy Sr, sendiri harus mengubur impiannya menjadi orang nomor satu saat dia menjabat sebagai Dubes untuk Inggris. Harapannya jatuh ke putra sulungnya, Joseph Kennedy Jr, yang akhirnya tewas saat penugasan sebagai pilot. Estafet ambisi akhirnya berpindah ke John F Kennedy, sang putra kedua. Yang dibantu oleh adiknya, Bobby yang sangat berperan dalam kampanye.

JFK awalnya sangat gugup dalam meraih dukungan saat pencalonan dirinya sebagai senator sebelum akhirnya mencalonkan diri sebagai presiden. Tetapi dia menemukan momen kebangkitannya saat berbicara di depan perkumpulan ibu para tentara yang gugur di perang dunia.

Baru 2 seri yang saya tonton dari 5 seri yang tersedia. Sepertinya seru juga jika genre sinetron di Indonesia mengangkat tema-tema yang tidak mencederai intelejensia bangsa Indonesia.

Bicara soal sinetron, saya teringat dengan pengalaman saat melihat tayangan “sinetron” di saluran TV India, Zing. Di salah satu adegannya, teknik pengambilan gambar dengan zoom selama beberapa saat dan menyorot ke hampir semua pemeran yang ada mengingatkan dengan teknik gambar yang lazim di sinetron. Entah kenapa hal tersebut bisa terjadi. Meskipun sintron tersebut digawangi oleh produser dengan cita rasa India, tetapi yang menggarap adalah sutradara lokal. Oke lah kalau temanya tidak bercitarasa lokal, minimal tekniknya jangan terlampau mirip. Atau sebaiknya tema yang ada harus mencerdaskan kehidupan bangsa dengan teknik penggarapan yang sedikit menentramkan mata.

 

 

 
Leave a comment

Posted by pada 20 Desember 2011 in ulasan

 

Kaitkata:

Membagi PT.KAI

Tadi malam, saya menerima sms dari keluarga tentang lowongan kerja di PT.KAI. Bisa dicek disini. Informasi tersebut mengingatkan kehebohan yang muncul beberapa hari yang lalu. Seputar sidak ala Dahlan Iskan sebagai Menteri BUMN terhadap pelayanan kereta api di ibukota. Heboh, karena Dahlan Iskan muncul tanpa pengawalan / protokoler sama sekali, setidaknya itu yang muncul di media massa. Sekilas saya memang melihat kehadiran istrinya yang selalu setia mendampinginya.

Sepengetahuan saya, amat jarang pejabat setingkat menteri, di luar Departemen Perhubungan, yang melakukan sidak semacam ini tanpa ada persiapan sebelumnya oleh protokoler. Dari informasi beberapa rekan, KAI sedang mengalami perbaikan yang cukup signifikan, diharapkan dengan daya dorong yang diberikan Dahlan Iskan, perbaikan tersebut bergerak semakin cepat. Memang masih banyak kritik yang muncul tentang KAI. Hal yang sangat sulit dihindari oleh institusi yang bermetaformosis dari Perjan, Perum kemudian Perseroan. Tetapi tidak ada kritik yang tidak bisa diselesaikan. Optimisme itu harus tetap dikibarkan.

Salah satu isu menarik yang berkembang adalah pemecahan PT.KAI. Di perhubungan udara, bandara di urus oleh PT. Angkasa Pura. Sedangkan wahana transportasi udara diurus oleh masing-masing maskapai. Begitu pula di perhubungan laut. Ada Pelindo sebagai pengelola pelabuhan, di sisi lain Pelni dan perusahaan pelayaran swasta lain berperan sebagai operator kapal.

Dan hal serupa bisa diterapkan di moda transporatasi kereta api ini melalui PT. KAI. Ada perusahaan yang mengelola stasiun kereta beserta jalur rel kereta. Ada pula yang berperan sebagai operator kereta. Kompetisi pasti akan muncul terutama jika pihak swasta diberi kesempatan untuk mengelola.

Toh, untuk kepentingan publik segala macam alternatif perlu dipikirkan dan dilaksanakan sebagai tindak lanjut pelayanan kepentingan masyarakat. Jika hal ini berhasil dan mampu membuat kepentingan publik terlayani dan perusahaan kereta api hidup sehat, bukan tidak mungkin akan banyak unbundling di BUMN lainnya. Dan itu wajar selama kepemilikan mayoritas masih dipegang oleh negara.

 
Leave a comment

Posted by pada 8 Desember 2011 in indonesia

 

Kaitkata:

Pemilu di Makassar

 Foto di sebelah adalah gambaran hasil pemungutan suara untuk ketua IA ITB di tps Makassar.

Diluar dugaan, kandidat No.5 unggul jauh ketimbang kandidat terdekat yaitu No.2. Prediksi saya kandidat No.1 akan bersaing ketat dengan kandidat No.5. Tetapi alumni punya pilihan lain.

Kandidat yang saya dukung hanya menduduki posisi ke-4, hehe. Tidak menyesal pastinya, meski harus bolak-balik ke Makassar. Toh lumayan banyak bertemu dengan alumni lainnya.

Seorang kawan dari PT lain, mengungkapkan harapannya terkait pemilu IA ITB  ini.

Mudah2an yang terbaiklah yg naik. Yg bisa dan punya nyali mengadvokasi kemajuan dan penerapan teknologi di Indonesia.

Apakah saya harus bergabung dengan kepengurusan yang sekarang ?

 
Leave a comment

Posted by pada 8 Desember 2011 in indonesia

 

Kaitkata: ,

Memahami Pawang Hujan

Di musim penghujan seperti saat ini, pawang hujan sering kali terdengar terutama saat diadakan acara-acara di luar ruangan. Entah kenapa, jarang yang menggunakan jasa pawang hujan saat musim kemarau. Apakah deskripsi tupoksi mereka hanya sebatas mengusir awan dengan potensi hujan? Tidakkah fungsi pawang hujan selain bisa mengusir, meraka juga seharusnya mampu memanggil awan yang memiliki kandungan air yang besar.

Tulisan ini terinspirasi dari sandek seorang kawan saat saya bercerita tentang penggunaan pawang hujan di proyek-proyek penghujung  tahun. Memang kawan ini pernah bercerita tentang seorang pawang hujan yang ditugaskan untuk “mengamankan ” proyeknya saat musim penghujan tiba. Bukan, bukan kawan saya yang menugaskan sang pawang hujan. Melainkan salah seorang pimpinan di kantornya, yang agak khawatir dengan posisinya jika proyek tersebut terhambat karena guyuran hujan yang deras.

Alkisah pada fase kritis proyek tersebut, selama 7 hari, mendadak ada seseorang yang muncul dan berdiam diri di salah satu sudut wilayah proyek. Tidak ada aksesoris khas pawang hujan konvensional seperti sesajen ataupun rupa-rupa lainnya. Yang dia lakukan hanya berdoa atau merapa mantera. Kawan saya pun tidak terlampau paham mengenai aktivitas yang dilakukan oleh so called pawang hujan tersebut.

Entah kebetulan atau memang ada hubungannya, selama 7 hari sesuai SPK yang diberikan, memang tidak ada awan dengan potensi hujan yang mendekati proyek tersebut. Hanya pada hari terakhir kontrak kerjanya, terlihat awan menggantung dan sesekali hujan rintik-rintik menghampiri lingkungan proyek kawan saya tersebut. Pada saat kontrak kerjanya berakhir, hujan dengan sukses mengguyur wilayah tersebut dari pagi sampai sore selama beberapa hari. Untung saja, pekerjaan kawan saya sudah diselesaikan terlebih dahulu.

Awal bulan ini, saya sedang menyelesaikan proyek di daerah Sulawesi. Proyek ini harus selesai bulan ini, supaya tercatat di pembukuan tahun ini.Sama seperti cerita di atas, selama beberapa hari ini, setiap sore hujan hampir selalu turun dengan intensitas yang bervariasi. Sehingga saya selalu berpesan ke beberapa kawan di kantor berdoa penyelesaian proyek ini tidak terganggu. Tujuannya proyek ini dapat berkontribusi dalam bonus tahunan yang akan datang :D .

Sore kemarin, saya berbincang dengan seorang anggota tim. Mengungkapkan keheranan saya mengenai cuaca yang terbilang sangat cerah dibandingkan hari-hari sebelumnya. Dengan bangga dia bercerita bahwa malam sebelumnya ritual pengamanan dari guyuran hujan sudah dilakukan. Dan menenangkan saya supaya tidak mengkhawatirkan kondisi proyek yang cukup ketat dengan berbagai tantangan yang ada termasuk hujan dan kekagetan saya akibat pernyataan dia tersebut.

Hari kedua pekerjaan, cuaca masih cerah hingga sore hari. Menjelang jam 4 sore waktu setempat, saya berkeliling lokasi untuk memastikan progress pekerjaan sesuai rencana. Rupanya sang teknisi cum  pawang hujan tidak terlihat. Menurut rekan satu timnya, dia sedang bekerja di basement untuk melepaskan MV kabel 11 kV. Tiba-tiba saja terlintas di benak saya,

Wah bisa jadi blank spot untuk mantra-mantra tolak hujannya…

Dan benar saja, dalam waktu singkat hujan langsung mengguyur lokasi proyek kami. Memang hujan hanya turun sebentar. Entah karena kandungan air di dalam awan sudah habis ataukah memang mantera sang pawang sudah bekerja kembali.  Ada-ada saja… Termasuk saya yang menuliskan kisah ini :D

 
1 Comment

Posted by pada 2 Desember 2011 in indonesia, proyek

 

Patung Yang Diprotes

 Mumpung masih di pulau Sulawesi, saya tuliskan saja opini seorang kawan saat kami melewati patung Sultan Hasanuddin yang terletak di depan bandara Sultan Hasanuddin, Maros. Saya baru sadar kalau rata-rata bandara di Indonesia terletak di luar wilayah ibukota Propinsi.

Kembali ke patung Sultan Hasanuddin yang memiliki nama asli I Mallombassi Daeng Matawang Karaeng Bontomangape, kawan saya bercerita setidaknya ada 3 hal yang diprotes oleh masyarakat Sulsel:

1. Ukuran tubuh yang cenderung “cebol”. Pendapat yang berkembang, Sultan Hasanuddin memiliki postur tubuh tinggi besar dan gagah. Jauh dengan yang terlihat dari patung di sebelah.

2. Sandal yang dipergunakan tidak memperlihatkan riset yang mendalam.

3. Arah patung yang membelakangi pintu bandara. Terkesan tidak sopan, karena membelakangi tamu yang baru datang dari arah bandara. Mungkin maksud si perancang, patung ini dimaksudkan untuk melepas para tamu yang akan meninggalkan Sulawesi Selatan.

Dari beberapa laman yang saya baca, ada juga yang menyoroti ikat/penutup kepala yang digunakan. Kritik senada memang pernah muncul saat proses pembangunan patung Jendral Sudirman di salah satu jalan protokol di Jakarta.

Dalam bekerja, selain ketekunan dalam melakukan riset, keteguhan hati memang sangat diperlukan.

 
2 Comments

Posted by pada 2 Desember 2011 in indonesia

 

Kaitkata:

Buku Yang Hilang

Akhirnya buku terakhir yang saya beli ini dipastikan hilang. Teledor saat pengepakan memang menyebalkan.

Buku ini saya beli di Periplus bandara Adisucipto pertengahan bulan November lalu. Cukup lama saya cari, karena saya tertarik dengan cara Mr. Lee Kwan Yew ini dalam memandang masalah dan menyelesaikan masalah. Terutama saat transisi keluarnya Singapura dari Federasi Malaysia hingga membangun Singapura menjadi negara dunia pertama, sesuai judul bukunya.

Saya yakin banyak pelajaran yang bisa dipelajari, terutama jika anda ingin mempertajam kemampuan memimpin dan memecahkan masalah.  Oelh karena itu, buku ini kembali jadi buruan saya dan tidak akan saya teledor dalam pengamanannya.

Semoga, siapapun yang menemukannya diberi jalan untuk mempergunakan ilmu yang ada di buku tersebut ke arah kebaikan. Sehingga (moga-moga) saya terciprat kebaikan yang beliau perbuat.

 

 

Sumber: Amazon.com

 
Leave a comment

Posted by pada 2 Desember 2011 in curhat

 

Kaitkata: , ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.104 pengikut lainnya.