RSS

Arsip Bulanan: September 2010

Cerita di Pulau Tidung

terkadang kehidupan menghadirkan kejutan yang aneh

Pagi ini, seperti biasa, saya melahap blog menarik yang sudah 5 hari tidak saya sentuh. Salah satunya bercerita tentang pulau Tidung . Sudah 2 tahun lebih di Jakarta rasanya sayang juga jika tidak menyempatkan diri berkunjung ke kepulauan Seribu.

Berawal dari ajakan seorang kawan yang sedang berkeliling Jawa Barat, untuk menemaninya ke etape terakhir di kepulauan Seribu. Sayapun berkonsultasi dengan istri mengenai rencana tersebut. Beda memang, jika masih bujangan. Cukup berkonsultasi dengan kondisi fisik dan penasihat keuangan :D .

Setelah mendapat ijin dari istri, saya dan kawan saya tersebut memutuskan untuk berangkat ke Pulau Tidung. Salah satu pulau yang sedang naik daun diantara gugusan kepulauan Seribu.Lazimnya, jika mendengar kepulauan Seribu yang langsung teringat adalah pulau Pramuka.Menurut kawan yang sudah cukup lama bergaul di milis backpacker , setidaknya ada 3 pulau besar di sana. Selain Tidung dan Pramuka, ada pula pulau Untung Jawa. Sebenarnya masih ada beberapa pulau lagi yang menawarkan beragam tujuan wisata menarik, hanya saja kita harus menggunakan jasa ojek perahu dari pulau utama menuju ke pulau dengan beragam obyek wisata menarik tersebut.

Ada 2 titik pemberangkatan menuju pulau Tidung. Pertama dari pelabuhan Marina Ancol, kedua dari pelabuhan Muara Angke. Berhubung jalan-jalan ini edisi  backpacker ekonomis, tentu lucu jika kami bermewah-mewah selama perjalanan. Diputuskan, berangkat dari pelabuhan Muara Angke.

Hanya ada 1 kali pemberangkatan dari Muara Angke dalam sehari. Menurut informasi , kapal yang ada akan berlayar jam 7 pagi waktu nahkoda :D . Di pelabuhan Angke ini, tersedia beberapa rute pelayaran menuju kepulauan Seribu termasuk ke pulau Pramuka.

Rute darat yang kami tempuh untuk menuju pelabuhan Muara Angke adalah : Cawang – Grogol via bus P6 . Dilanjutkan dengan Grogol – Angke via angkot merah 01 . Jika tidak terjadi kemacetan disekitar Muara Angke, sopir angkot akan mengantar anda tepat di titik pemberangkatan kapal. Sayangnya kami harus berjalan terlebih dahulu, dengan membawa informasi dari sopir, bahwa kami harus menemukan spbu pertamina terlebih dahulu. Karena letak pelabuhan pemberangkatan tepat disebelah spbu tersebut.

Sepertinya cukup banyak orang yang akan bepergian dan menginap di kepulauan Seribu akhir pekan ini. Terlihat dari banyaknya orang yang turun dari kendaraan pribadi mereka dan menenteng logistik yang cukup melimpah. “Semoga mereka tidak memenuhi pulau Tidung”, bisik saya dalam hati.

Beberapa puluh meter berjalan, kami berada dalam jalur unloading hasil tangkapan nelayan. Syaraf di hidung ini sudah mulai waspada. Dan benar saja, tidak berapa lama kemudian, saya harus menahan nafas karena aroma yang ditimbulkan mengingatkan saya akan aroma rendaman cucian berpekan-pekan. Atau aroma sungai di jakarta yang sudah diluar batas kewajaran.

Saya lihat kebelakang, teman saya mulai sedikit ragu dengan jalur yang kami pilih. Dan dibelakangnya lagi, ada segerombol anak muda tanggung yang celingak-celinguk saat kami berdua berhenti. Entah karena jalur yang salah atau aroma yang semerbak ini. Tidak mau berlama-lama, kami putuskan untuk bertanya kepada salah satu penghuni pasar pelabuhan itu. Ternyata kami harus berbelok ke arah kanan, dan setelah berjalan beberapa saat, akhirnya terlihat spbu yang ( mungkin ) dimaksud oleh supir angkot tadi.

Tidak jauh , terlihat pula antrian orang dengan pakaian santai untuk berwisata yang sudah mengular. Sepertinya kegelisahan sudah menghinggapi benak kawan saya itu. Khawatir kami tidak mendapat tempat dikapal sepertinya.

Jangan pernah percaya dengan asumsi, adalah salah satu prinsip yang diajarkan di kampus dahulu. Dengan sedikit dag dig dug, kami menerobos masuk lorong tempat antrian tersebut menumpuk. Anehnya diantara lorong dan pelabuhan tidak banyak antrian seperti di depan tadi. Lolos dari antrian itu, kami mencari-cari loket untuk pembelian karcis kapal. Tidak terlihat  sama sekali.

Tepat didepan kami , ada 2 bagian pemberangkatan. Disebelah kiri, kapal-kapal yang akan diberangkatkan lebih banyak jumlahnya. Begitu pula jumlah penumpangnya, serasa melihat kereta api edisi mudik lebaran. Sedangkan disisi kanan, kapal hanya ada 3 – 5 buah dan penumpangnya juga belum terlalu banyak. Kami putuskan ambil yang kanan. Meskipun ini edisi ekonomis, tetapi kenyamanan harus masuk dalam prioritaslah.

Sepertinya kawan saya sudah tahu situasi seperti ini, jadi dia sudah terlihat lebih tenang ketimbang saat kami masih mencari jalur menuju pelabuhan dengan waktu yang terbatas. Meskipun terlihat mulai banyak penumpang yang masuk kapal dengan membawa tiket berwarna-warni, kami tetap teguh menuju salah satu kapal. Bertemu dengan salah satu awak kapal, kami bertanya apakah masih ada tempat kosong kepadanya. “Berapa orang”, tanya si awak kapal. “2″, jawab saya dengan tersenyum. Yang tentu saja disambut , ” Langsung masuk pak”. Tidak berapa lama kemudian awak kapal tersebut berbincang-bincang dengan rekannya mengenai keterlibatan kami di kapal tersebut. Beres.

Setelah mengambil tempat di dekat mesin kapal, barulah kawan saya bercerita . Kapal yang kami tumpangi saat itu adalah non-reguler. Jadi wajar saja, kapal ini lebih lengang ketimbang kapal reguler. Penumpang kapal ini umumnya menggunakan agen perjalanan, terlihat dari tiket yang mereka bawa. Bahkan di kapal , kami bertemu dengan salah satu kelompok yang mengular di luar tadi.

Mereka menggunakan seragam berupa kemeja putih, dengan tulisan ” proud of 3 ” di saku kemejanya. Hal yang terlintas pertama kali, adalah kelompok tersebut adalah karyawan salah satu operator telekomunikasi atau anak SMU ? Tetapi melihat tampang sebagian besar anggota kelompok tersebut yang terbilang matang di pohon, buru-buru ide tersebut saya hapus dari pikiran.

Kelompok tersebut berkisar 15 orang, dengan komposisi pria wanita yang cukup seimbang. Kaum pria menempatkan diri di garis luar kelompok tersebut. Mungkin untuk keselamatan kaum wanita di kelompok mereka. Atau kaum wanitanya saja yang ingin mencari tempat bersandar di dinding kapal. Entahlah, yang jelas di dekat kami tidak terlihat ada seorang pejantan dari kelompok tersebut. Mungkin mereka percaya dengan tampang edisi ikhwan hanif kami :D yang tidak memiliki niat atau pikiran jahat.

Di tengah perjalanan, salah seorang anggota kelompok tersebut mengeluarkan logistik mereka.Dan terlihat beberapa kotak makanan mulai diedarkan. Terlihat dari sudut mata saya, nama produsen makanan tersebut terlihat dari sudut mata. Dan terpampang Bogor sebagai asal dari makanan tersebut. Hmmm, tidak memberikan pencerahan rupanya. Diperlukan informasi tambahan. Sayangnya sampai menginjakkan kaki di Pulau Tidung, kami belum berhasil mengungkap asal kelompok “proud of 3″ tersebut.
-Investigation is part of your life, Fox Crime-

Perjalanan Muara Angke – Tidung ditempuh sekitar 2 jam.

Sesampainya di Tidung, kawan saya bertemu dengan teman saat SMU dulu. Ternyata dia di Tidung melalui agen perjalanan juga. Dan menurut kawannya juga, untuk akhir pekan, mustahil akan mendapat tempat penginapan kosong jika tidak memesan terlebih dahulu. Pusing memikirkan itu, kami memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu. Sembari mencari informasi penginapan yang kosong. Dan jawaban serupa pun kami dapatkan. Bahkan untuk sewa sepeda ataupun peralatan snorkling. Sebenarnya kami sempat mendapat tawaran sebuah rumah penginapan kosong, tetapi menurut si pemilik cukup jauh jalannya. Tidak terlalu tertarik dengan jawaban si bapak tersebut, kami menanyakan jadwal keberangkatan kapal dari Tidung. Ternyata jam 13.

Sebenarnya kawan saya tidak keberatan untuk tidur di tepian pantai. Tetapi saya sedikit menolaknya, mengingat jika informasi saya menggelandang tersebut bocor, bisa jadi saya tidak akan dapat berjalan-jalan sesuka hati lagi. Akhirnya kami putuskan untuk mengelilingi pulau tersebut dalam waktu 2-3 jam . Termasuk mengunjungi pulau Tidung Kecil dan ikon Jembatan Cinta-nya.

Sepertinya pengunjung Tidung lebih banyak terfokus di Jembatan Cinta dan kawasan untuk snorkling. Karena sepanjang perjalanan menyusuri garis pantai, tidak banyak orang yang kami temui. Pasirnya putih, sayang banyak sekali sampah yang berserakan. Abrasi garis pantai memang terlihat di sepanjang pantai, karena penanaman bakau yang dilakukan oleh salah satu LSM tampaknya tidak dirawat secara serius.

Berjalan menyusuri pantai memang cukup berat, tetapi sesekali merendam kaki di air laut bisa menjadi terapi yang cukup menyegarkan. Hanya ada satu BTS telekomunikasi di di pulau Tidung. Jadi, jangan pakai provider tersebut jika anda benar-benar ingin berlibur di pulau Tidung.

Sudah lama kami berjalan, hampir jam 12, tujuan kawan saya belum terlihat juga. Bertanya ke penduduk, memberikan jawaban yang mengkhawatirkan. Menurut mereka , dari posisi kami saat itu, dibutuhkan waktu hingga 2 jam untuk mencapai Tidung Kecil dan jembatan cinta. Sekali lagi, kami tidak mau terjebak oleh asumsi. Karena rentang waktu jauh – dekat, itu sangat relatif.

Dan benar saja, tidak sampai 1 jam, kami berhasil mencapai kedua ikon tersebut. Tentu saja dengan tenaga ekstra, maklum kami harus berjalan sangat-sangat cepat.Rupanya kawan saya itu sudah terlatih berjalan setengah berlari saat dia harus membagi waktu antara asistensi di laboratorium dan kuliah pada waktu yang sama.

Jembatan Cinta adalah jembatan kayu yang menghubungkan antara pulau Tidung dan Tidung Kecil. Tidak banyak yang istimewa dari jematan tersebut. Selain anda dapat berfoto diatasnya, melihat dasar laut yang lumayan dangkal serta melompat dari jembatan tersebut. Jauh dari bayangan awal saya, yang mengira bentuk jembatan tersebut akan mengambil simbol cinta. Ah,itu hanya berlaku untuk bujangan seperti kawan saya itu.

Dodolnya, saat kami sudah mencapai ujung jembatan arah Tidung Kecil, kawan saya tidak mau difoto dengan pose menginjak daratan Tidung Kecil. “Sama saja “, gumamnya. Saya hanya bisa menghela nafas sembari mempersiapkan tenaga untuk mengejar kapal terakhir yang akan membawa kembali ke Jakarta. Dengan menumpang ojek seharga 15 ribu, kami berhasil bergabung dengan armada kapal terakhir yang tampak lebih sepi ketimbang pagi tadi.

Tidung memang menarik untuk merenung di luar akhir pekan atau hari libur besar. Sayangnya potensi kuliner lautnya belum digarap secara serius. Mungkin baru dihadirkan malam hari ya ? Keinginan untuk menjajal hidangan laut segar sepertinya harus ditunda terlebih dahulu.

 
3 Comments

Posted by pada 19 September 2010 in indonesia, ulasan

 

Macan Tutul dan Top Gear

Kebetulan hari ini sudah memasuki tahap engine run test selama 50 jam, sebagian besar engineer tetap diharapkan standby , tetapi dirumah masing-masing :D . Tahapan berikutnya adalah pengecekan defleksi komponen mesin selama masa pengujian 50 jam tersebut, dan akan dilaksanakan besok Senin.

Jadilah, sarapan pagi ini sedikit memasuki kawasan waktu Dhuha. Sedikit kebingungan dengan jaringan internet yang tumbang, baik internal karena catu daya router yang mogok maupun jaringan HSDPA yang tidak kunjung membaik, menonton tv berbayar menjadi alternatif yang menarik.

Pilihan pertama adalah NatGeo Wild. Edisi kali ini mengambil sosok si macan tutul. Yang diceritakan bersama Singa dan Cheetah menjadi penguasa di gurun Kalahari Afrika Barat Daya. Entah kenapa, corak totol pada kulit si macan tutul ini begitu menarik ketimbang corak pada cheetah atau singa yang polos-polos saja. Terbayang kalau cat pada gas engine yang akan dipasang tahun depan diberi corak totol tersebut :D . Bisa – bisa pembangkit didatangi kawanan macan tutul :D .

Dinarasikan bahwa keunggulan si macan tutul adalah ketangguhan fisik dan kemampuan adapatasinya yang terbaik dibandingkan spesies sejenisnya di kawasan tersebut. Tetapi yang menarik perhatian saya adalah, fenomena alam di gurun Kalahari tersebut.

Jadi, setiap 15 tahun sekali akan terjadi badai disekitar samudera, yang akan mengangkut bermilyar-milyar liter air laut dan menumpahkan di gurun Kalahari tersebut. Diperkirakan curah hujan yang tercatat adalah 6 cm / mm (? ). Jadi selama beberapa pekan, sebagian besar wilayah gurun Kalahari akan dilanda banjir dan terbentuk sungai purba yang akan berfungsi selama 15 tahun sekali.

Selama beberapa pekan itu, muncul padang rumput yang tidak terbayangkan sebelumnya oleh sebagian besar spesies di gurun tersebut. Maklum sebagian dari sebagian spesies yang memperlihatkan tampang katroknya saat melihat banjir tersebut, mungkin belum lahir saat banjir terakhir terjadi. Atau rata-rata spesies tersebut, daur hidupnya memang rendah di bawah ancaman karnivora penguasa Kalahari.

Bosan melihat Kalahari, saya bergeser ke saluran sebelah, BBC Knowledge. Acara yang sedang tayang adalah Top Gear. Dipandu 3 orang , acara ini memang cukup menarik. Mereka tidak akan ragu-ragu memuji jika kualitas dan kinerja mobil yang sedang dibahas memang unggul. Sebaliknya, mereka dengan senang hati akan menyindir bahkan menghujat jika kinerja kendaraan tersebut jauh dari harapan.

Seperti salah satu produk yang diberi nama Cleo. Serinya dan pabrikan saya tidak ingat, yang  jelas mobil tersebut memiliki masalah (entah) pada kemudi atau ban. Karena , pembawa acara Top Gear tersebut menyindir, jika moil Cleo tersebut hendak berputar, maka anda harus mengeliling Jerman terlebih dahulu :D .

Selepas ulasan di studio, sesi berikutnya adalah uji mobil dengan konsep Russian Roullette . Jadi, ada sebuah layanan yang mengkhususkan diri untuk mengantar orang-orang mabuk beserta kendaraannya. Tim yang bertugas disebut Scooter Man, karena mereka mengendarai skuter mini yang dapat dilipat dan dimasukkan ke bagasi mobil. Karena, mereka harus kembali dengan skuter tersebut.

Ada 2 mobil yang diuji coba. Pertama , Mercedes A Class yang dimiliki sepasang suami istri. Kedua, Citroen C3 yang dikendarai 2 orang perempuan. Citroen itu produksi Perancis atau Rumania ya ?

Selama mengendarai mobil tersebut dan mengantarkan beserta pemiliknya kembali ke rumah, sang penguji akan memberikan komentar mengenai kemampuan dan fitur-fitur yang ada di mobil tersebut.

Sebenarnya banyak komentar yang meluncur, lebih banyak memerahkan telinga ketimbang pipi sang desainer mobil. Maklum kritikus handal.

Seperti untuk Mercedes, yang digunakan adalah versi diesel. Sedangkan menurut si pemilik, ia membelinya seharga 50.000 pounds. Dan menurut sang penguji, harga tersebut terlampau mahal.

Dan untuk Citroen, sang penguji mempermasalahkan suspensi dari kendaraan tersebut.

Sesi ketiga adalah ujicoba BMW seri M5. Semoga tidak salah ingat serinya. Sepanjang uji coba, sang penguji mengeluhkan gangguan dari Sat Nav ( Sattelitte Navigator ). Fitur ini berupa panduan elektronik untuk lokasi maupun keamanan dalam berkendara. Akan tetapi saat sang penguji mencoba mode M, yang tombolnya terletak pada kemudi, sang penguji kontan terkagun-kagum dengan tenaga yang dihasilkan. Dari 400 tenaga kuda melonjak ke 507 tenaga kuda. Saking kagumnya, sang penguji menyatakan kinerja BMW ini melebihi Ferrari F430 .

Semakin tertarik menjajal mode M tersebut :D

 
2 Comments

Posted by pada 18 September 2010 in ulasan

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.104 pengikut lainnya.