Hidup adalah Perbuatan
Beberapa waktu lalu, salah seorang teman menanyakan maksud iklan-iklan dari Soetrisni Bachir, penerus Amien Rais di PAN, apakah dia mau maju jadi presiden? Teuing.. Tapi rasanya tidak ada yang tidak mungkin dengan sistem demokrasi saat ini di Indonesia.. Olala, saya baru ingat teman saya satu ini adalah fans pak Amien Rais dari jaman kecil dulu.. Tak terasa diskusi kami berlanjut ke masa-masa akhir orde baru . Teman saya heran kenapa bukan Amien Rais yang memimpin bangsa ini untuk sejenak mengingat beliau adalah salah satu masinis loko reformasi..
Amien Rais, Orde Baru dan Reformasi
Saya kenal Amien Rais pertama kali lewat tulisan-tulisannya. Terutama yang dimuat di kolom Resonansinya Republika. Tulisan-tulisannya terbilang sangat vokal untuk ukuran saat itu ( beberapa bulan / tahun sebelum reformasi 1998 dimulai ). Salah satu yang masih saya ingat, artikel yang membedah kebodohan pemerintah mengenai kontrak kerja dengan Freeport.. Disana ditulis bahwa selain tembaga, ternyata Freeport juga berhasil mengambil bahan tambang lain yang berharga. Salah satunya adalah emas. Suatu informasi yang sangat mengagetkan, karena dari jaman SD, saya diajarkan bahwa pertambangan di Irian Jaya / Papua saat ini hanya menghasilkan tembaga saja. Entah, apakah saat ini informasi tersebut sudah direvisi di buku-buku pelajaran.
Yang jelas sudah begitu banyak devisa negara yang dikeruk Freeport dan pejabat terkait dan tidak masuk ke kas negara sampai saat itu. Lalu darimana Amien Rais mendapatkan informasi tersebut ? Entahlah.. Yang jelas pada saat itu , tidak banyak orang yang mau menyuarakan kebobrokan pemerintahan Orde Baru. Dan sampai saat ini, beliau masih menyuarakan kelemahan pejabat-pejabat bangsa ini terhadap kontrak-kontrak karya pertambangan yang dinilai sangat merugikankas negara.
Kevokalan Amien Rais tersebut, tentu saja membuat jengah Soeharto dan anak buahnya. Itu terlihat dari pengakuan salah seorang orang dalam Cendana saat itu ( maaf , sumbernya hilang, yang jelas dari halaman pertama harian Republika beberapa waktu setelah keruntuhan Orde Baru)
Sebenarnya , Pak Harto berencana menangkap Pak Amien Rais terkait dengan kekritisannya terhadap pemerintahan Orde Baru. Akan tetapi ada pihak-pihak yang memberitahukan supaya Pak Harto mengurungkan niatnya. Karena dibelakang Pak Amien Rais berdiri pendukungnya, sekian juta warga Muhammadiyah.
Terkait dengan hal itu, Pak Harto mencoba hal lain dengan membuka hubungan dengan warga Muhammadiyah. Salah satu kalimat yang saya masih ingat adalah
Saya juga warga Muhammadiyah
Bisa jadi klaim tersebut benar, mengingat latarbelakang pendidikan dasarnya. Tapi saya belum mendapat bukti pendukung yang cukup. Mungkin ada yang mau mendukung atau menyanggah ? Dipersilakan…
Disisi keluarga Amien Rais sendiri, kekhawatiran memang muncul. Bahkan ibundanya sendiri menasihati supaya tidak terlalu “melawan / mengkritisi ” pak Harto yang pada saat itu masih kuat kekuasaannya. Beberapa saat menjelang 20 Mei 1998, situasi ibukota sudah mulai memanas. Bahkan kediaman Amien Rais di Jogja sudah dijaga oleh pasukan Militer atas perintah Danrem Jogja saat itu, Kol. Iwan Sulanjana. Yang dikemudian hari, budi baik sang kolonel dibalas Amien Rais dengan dukungan saat sang kolonel yang sudah berpangkat MayJend (purn) dicalonkan sebagai cawagub Jabar pada pilkada Jabar 2008 yang lalu. Oleh karena itu, saya sedikit aneh dengan pernyataan teman dari militer yang mengungkapkan bahwa Amien Rais tidak terlalu mendukung militer.
& Komentar
7 Agustus 2008 pukul 18:36
Bersambung ke pilpres 2009, Ndo?
18 September 2008 pukul 13:25
Hahaha…..
begawan itu tidak harus tampil jadi pemimpin, tetapi melahirkan dan terus membimbing pemimpin2 muda. Sayangnya sang begawan juga gagal menghasilkan pemimpin baru.
21 November 2008 pukul 11:38
Ndo, ternyata nama benernya Amin Rais lho. Liat aja di Facebooknya. Hehe. Apa ybs. yg salah ketik ya?
21 November 2008 pukul 14:36
Hmm, nanti saya cek deh… Mungkin salah juru ketiknya kali ya ?? Atau nama bekennya Amien rais ya ?
2 Januari 2009 pukul 21:40
Kalo nama saya Amin Muntoha lho.. bukan Amien Muntoha.. wkwkwk..
3 Januari 2009 pukul 07:27
Okeh min… Btw, blog dah di-update ? Lama bener hibernasinya…