Biasa obrolan warung bu lies bada shalat jumat. Ada sekelompok insan perfilman yang menamakan dirinya masyarakat film indonesia mengajukan revisi peraturan / perundangan tentang badan sensor film nasional. Intinya mereka meminta supaya badan sensor tersebut dihapuskan dan diganti dengan istem rating atau peringkat film berdasarkan kualitas dan sasaran pasar dari film tersebut. Seperti di amerika kalau tidak salah. Jadi peringkat berkisar antara peruntukan kepada anak-anak sampai dengan konsumen sangat dewasa ( jompo ?)
3 dari 5 orang yang mengajukan revisi ke mahkamah konstitusi yang saya kenal tapi mereka tidak kenal saya adalah mira lesmana, riri riza (?) dan dian sastrowardoyo.
Diakhir pertemuan dengan mahkamah konstitusi, mbak dian ini sangat bersemangat kali saat diwawancara oleh jurnalis terkait dengan usaha yang dilakukannya saat ini. Menurutnya sistem rating akan lebih mampu mengembangkan kreativitas para sineas muda saat ini. Selain itu, jika menggunakan sistem rating film, dia mengusulkan supaya pengawasan di bioskop lebih diperketat terutama bagi film-film untuk dewasa. Menurutnya pengawasan harus melibatkan semua pihak dari ortu, pegawai bioskop dan lain-lain.
Dari sisi penentang ada 3 sineas senior, anwar fuadi, taufik ismail dan ray sahetapi. Bang anwar ini sendiri tampaknya cukup gerah dengan kemauan beberapa sineas muda ini. dia memminjam istilah pak taufik ismail, dengan berujar” Apakah bangsa ini mau dijadikan bangsa syahawat merdeka ?”
Oke cukup…cukup… sekarang sesi opini pribadi. saya fokuskan ke komentar mbak dian sastrowardoyo yang sedang menuntut ilmu s2, seperti rekann2nya misal marissa, renata.
Pertama masalah rating atau sistem sensor. Jika peredaran film hanya berlangsung di bioskop dan pengawasan oleh pegawai bioskop benar-benar sesuai dengan usia konsumennya, secara teori bisa-bisa saja.
sayangnya ada 2 hal yang bisa meruntuhkan teori tersebut, setidaknya. Pertama, apakah orang-orang yang berkecimpung dalam peredaran film nsaional sudah memiliki disiplin yang sangat baik? Jika dibandingkan keinginan untuk mendapatkan untung, akan ditempatkan pada prioritas keberapakah motif kerja yang berorientasi pada kepentingan masyarakat, misal pengawasan usia konsumen, pengkategorisasian film berdasarkan isinya serta peredaran film melalui media lain, misal cd, dvd , internet?
Kedua, masalah kretivitas sineas yang tidak ingin dibatasi pihak lain. Memang susah – susah gampang. Saya teringat dengan sepenggal khutbah Jumat pak Hermawan K Dipoyono di masjid Salman ITB. Beliau mengatakan bahwa salah satu variabel yang menentukan kualitas keimanan sorang muslim bisa jadi adalah tempat dia berada. Maksudnya, jika sorang muslim bisa menjalankan apa yang seharusnya di jalankan sebagai muslim dalam kehidupan sehari-hari saat di Mekkah atau Madinah, ya wajar saja. Karena situasinya yang mendukung. Akan tetapi jika seorang muslim mampu berlaku sebagai seorang muslim saat dia berada di kota-kota pusat kemaksiatan , katakanlah dia sedang tugas belajar disana, tentu saja salut dan ancungan jempol akan datang bertubi-tubi baginya, selain keberkahan dari Allah SWT jika muslim tersebut ikhlas.
Jika sineas muda tidak ada batasan sama sekali dari pihak lain baik pemerintah maupun konsumen, wajar saja jika dia mampu membuat suatu karya. Tetapi jika ada sedikit batasan dari pihak lain, dan dia mampu menghasilkan karya, bisa jadi karyanya memang berkualitas.
toh, berlian lebih berharga ketimbang batubara karena tempaan yang diterima arang batubara lebih ringan ketimbang yang diterima arang berlian.
