RSS

Arsip Bulanan: Juli 2007

Kurangnya etika berkendara…

Selama ini , pengendara kendaraan bermotor di jalan raya khususnya telah mengenal etika berkendara. Biasanya diwujudkan dalam ujian mengambil SIM (Surat Ijin Mengemudi). berangkat dari pengalaman di jalan dago , hari selasa 3 juli yang lalu.

Kebetulan , saya ada janji dengan teman di kawasan sekitar masjid Salman ITB, untuk menghindari kemacetan disekitar kebun binatang, saya memilih jalur dago-borromeus-ganesha. Ternyata setali tiga uang, jalan dagopun tidak selancar yang saya bayangkan .Padat merayap…
Sekitar 30 meter sebelum pertigaan Borromeus, tepatnya didepan konter Kramat Djati bandung, ada seseorang yang berada didalam mobil membuang sampah. tercatat 3 kali berturut-turut orang tersebut, membuang sampah langsung ke jalan raya. Betul ..jalan raya…

Dari sampah yang terlihat sekilas, dapat diasumsikan penumpang mobil tersebut baru selesai berbelanja dari salah satu factory outlet..

Bagaimana tidak kesal??? Seenaknya saja membuang sampah ke jalan raya. Kenapa tidak disimpan terlebih dahulu di mobil , kemudian baru dibuang di tempat sampah. Toh, sampah tersebut bukan sampah B3 ( bahan beracun dan berbahaya).

Tersangka pembuang sampah juga tidak diketahui apakah pria atau wanita, masih anak-anak atau sudah dewasa…

Yang jelas , saat itu saya urungkan untuk menghentikan mobil tersebut . Karena tidak baik mengingatkan atau mengoreksi kesalahan orang lain jika kita sedang emosi.

Oya, nopol mobil tersebut   B 14** GI , kalau ada pembaca blog yang mengenali pemiliknya, mohon untuk mengingatkan supaya mengkoreksi si pembuang sampah pada hari selasa lalu. Beliau duduk di kursi belakang dekat jendela sebelah kiri. Semoga saja tidak terulang lagi..

 
Leave a comment

Posted by pada 7 Juli 2007 in Uncategorized

 

Harmonisa dan Kualitas Daya

terinspirasi dari diskusi di milis alumni EL ,

seperti yang telah saya tulis di posting sebelumnya, level ketiga dari pencapaian yang harus dikejar oleh produsen listrik / pembangkit adalah kualitas daya.

Daya sendiri merupakan kombinasi dari nilai tegangan dan arus yang dibangkitkan oleh generator di pusat pembangkit ( power plant ). Idealnya, bentuk gelombang tegangan dan arus yang dibangkitkan berbentuk sin yang mulus ( smooth sine wave ).

Akan tetapi,fakta di lapangan menunjukkan bahwa bentuk gelombang tegangan maupun arus tidak semulus yang diinginkan. Penyimpangan dari bentuk gelombang yang ideal tersebut sering dinyatakan sebagai THD ( Total Harmonic Distortion ). Atau THD bisa dipergunakan untuk menyatakan besar harmonisa yang terkandung dalam gelombang tersebut.

Untuk menghitungnya dipergunakan deret Fourier. Misalkan frekuensi gelombang listrik yang dihasilkan oleh PLN sebesar 50 Hz, maka harmonisa adalah komponen Fourier yang nilai frekuensinya lebih besar dari 50Hz.

Arus harmonisa ini lebih suka mengalir pada impedansi rendah, misalkan pada kapasitor , karena kapasitor memiliki impedansi rendah untuk frekuensi tinggi. Harmonisa sendiri terdiri dari 2 komponen harmonisa layaknya listrik pada umumnya. Yaitu harmonisa tegangan dan harmonisa arus. Menurut sebuah sumber, harmonisa tegangan lebih berbahaya dibandingkan harmonisa arus.

Harmonisa umumnya terjadi di sisi beban atau pemakai. Baik kalangan industri maupun perkantoran dan rumah tangga. Efek harmonisa ini sangat berbahaya bagi pengguna. Beberapa contoh kejadian akibat harmonisa :
- rusaknya peralatan listrik
- terbakarnya kabel / konduktor penghantar meskipun belum mencapai nilai maksimum.

Berikut adalah tips untuk mengurangi THD ( Total Harmonic Distortion dari Pak Prasetyo Roem ) :

a. Pada waktu beli inverter, UPS, lihat specnya dan sekalian beli (optional) harmonik filternya. Setelah dipasang, pada waktu commissioning, pastikan (diukur sendiri) bahwa harmoniknya sudah ter-filter dengan baik. Saya pernah menemui filter inverter dari merk terkenal tidak berfungsi.

b. Pasang filter tambahan (seri) dengan dan dipasang sebelum UPS, inverter.

c. Pasang ‘penyedot’ harmonik dengan rangkaian induktor dan capacitor (dan resistor), dipasang paralel dengan beban. Sebagian harmoniknya disedot menjadi panas dan dibuang ke udara bebas (pakai AC) dan sebagian ditransfer menjadi sedikit kenaikan tegangan. Nilai induktor dan capacitornya di-tuned pada frekwensi harmonik dominan yang mau disedot, misalnya harmonik ke-5 = 250Hz. Mungkin perlu dipasang beberapa ‘penyedot’ harmonik ini untuk frekwensi yang berbeda-beda. Yang dominan biasanya harmonik ke 3, 5, 7.

Referensi : diskusi dan bagi-bagi info antara P’ Prasetyo Roem, P’Pekik A Dahono dan P’ Dhany Barus di milis EL ITB.

Ada berkas untuk tambah-tambah info, bisa diunduh disini.

 
42 Comments

Posted by pada 2 Juli 2007 in elektro

 

ISRAEL DALAM KATA-KATA AHMADINEJAD

dapat tulisan lumayan bagus dari milis…
Irman Abdurrahman
Staf Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta

Mahmoud Ahmadinejad, Presiden Iran, kembali membuat marah Israel.
Dalam orasinya pada peringatan wafatnya Ayatullah Khomeini (3 Juni
2007), Ahmadinejad, seperti dikutip Jerusalem Post, menyatakan bahwa,
“…kehancuran Israel sudah dekat”. Dan seperti biasanya, pernyataan
tersebut juga kontan membuat Eropa—yang tampaknya tak pernah bisa
berlepas dari ‘dosa’ historis holocaust— merah padam. Menlu Spanyol
dan Menlu Perancis langsung menyampaikan kecaman resmi negaranya. Bagi
keduanya, kata-kata Ahmadinejad harus mendapatkan respon dunia yang
keras.
Ini bukan kali pertama Ahmadinejad menyampaikan pernyataan
kontroversial terhadap rezim Zionis Israel. Satu pernyataan lainnya
yang memicu kontroversi internasional dan dikutip hampir seluruh media
pemberitaan dunia adalah, ketika pada sebuah konferensi bertajuk “The
World Without Zionism” (Oktober 2005), Ahmadinejad menyatakan,
“…Israel harus dihapuskan dari peta (dunia).”
Namun, dalam konteks ini, media-media Barat, telah melakukan
disinformasi terhadap, bukan hanya konteks, tetapi bahkan teks
sekalipun.

Disinformasi yang Sistematis

Kutipan tersohor dari pernyataan Ahmadinejad yang dalam bahasa Inggris
kerap diterjemahkan sebagai “Israel must be wiped off the map” sungguh
telah mengalami disinformasi yang sistematis. Mengapa demikian?
Pertama, pernyataan tersebut, seperti yang dikutip dari situs
berbahasa Parsi  ahmadinejad.ir, sebenarnya berbunyi, “Imam ghoft een
rezhim-e  ishghalgar-e qods bayad az safheh-ye ruzgar mahv shavad”. Di
sini, Nejad secuil pun tidak menyebut “Israel”, baik sebagai wilayah
maupun bangsa. Ahmadinejad sebaliknya menggunakan sebuah frase
spesifik, rezhim-e ishghalgar-e qods  (‘rezim yang menjajah al-Quds’).
Fakta ini menghadirkan perbedaan yang signifikan, karena sebuah
rezim—tidak seperti wilayah atau negara suatu bangsa—bukanlah entitas
yang bisa dihapus dari ‘peta dunia’.
Kedua, dalam pernyataan tersebut, tidak terdapat kata  nagsheh
(Parsi) sebagai padanan kata peta (map).  Ketiga, kata to wipe out
(menghapus) merupakan kesalahan penerjemahan yang diakibatkan oleh
ketidakpahaman akan konstruksi verba Parsi,  mahv shavad, yang
digunakan Nejad. Verba tersebut berfungsi intransitif, sehingga
padanannya yang lebih tepat adalah to vanish from (‘hilang/lenyap’)
bukan to wipe out (‘menghapus’) atau  to eliminate  (‘menghancurkan’).
Luar biasa, dunia sudah dibuat percaya bahwa Presiden Iran telah
mengancam akan “menghapus Israel dari peta (dunia)” meskipun dia tidak
pernah mengucapkan kata peta, menghapus, dan bahkan Israel.
Lantas, apa terjemahan yang mendekati pernyataan tersebut? Tepatnya,
inilah yang dikatakan Ahamdinejad, “Imam (Khomeini) berkata rezim yang
menjajah al-Quds ini akan lenyap dari lembaran masa (sejarah).”
Sejatinya, Nejad hanya mengungkapkan sebuah logika sejarah, bahwa
penguasa atau rezim yang zalim serta menindas tidak akan pernah
bertahan dalam lembaran sejarah.
Implikasi seperti itu terkait dengan konteks bahwa, dalam keseluruhan
pernyataannya, Nejad menganalogikan lenyapnya rezim Zionis dengan
rezim-rezim lain, seperti Shah Iran dan rezim komunis Uni-Soviet.
Pertanyaanya, adakah kedua rezim itu runtuh karena bombardir militer
atau serangan nuklir? Bukankah kedua rezim itu runtuh karena rakyat
yang mereka tindas tidak lagi menginginkan mereka? Adakah Shah Iran
dan rezim komunis  Soviet tumbang dengan disertai lenyapnya bangsa
Iran dan Rusia?
Dalam konteks seperti di ataslah, kita harus memahami pernyataan
Nejad terbaru bahwa, “…kehancuran Israel sudah dekat.” Seperti
dikutip dari IRNA, pernyataan ini terkait dengan sepak terjang Israel
di Palestina dan Lebanon dalam setahun terakhir. Bagi Nejad, jika
rezim Zionis tetap meneruskan penindasan terhadap Palestina dan
mengulangi invasi militer ke Lebanon, maka “bangsa Palestina dan
Lebanon akan menekan tombol ‘hitung mundur’ untuk membawa kehancuran
bagi Israel.” Lagi-lagi logika sejarahlah yang ingin disampaikan
Nejad, bahwa bangsa-bangsa terjajah yang menuntut kemerdekaan akan
melawan dan menghancurkan siapa pun rezim penjajah mereka.

Konteks yang Tak Terkatakan

Terlepas dari pernyataan-pernyataan Nejad yang mengalami disinformasi,
dan yang ingin dikesankan sebagai pernyataan anti-Semit, terdapat
hal-hal substansial yang luput dari pemberitaan media Barat.
Pertama, sikap Iran dalam konflik Palestina-Israel. Seperti pernah
diungkapkan Nejad sendiri, “Iran bukanlah ancaman bagi negara
manapun,…bahkan bagi Israel sekalipun. Kami ingin menyelesaikan
persoalan di sana (konflik Palestina-Israel) secara damai, melalui
referendum” ( kayhannews.ir). Referendum yang diikuti setiap penduduk
asli tanah Palestina, baik Muslim, Kristen, maupun Yahudi, adalah
solusi yang pernah diajukan Iran secara resmi, baik dalam forum PBB
maupun OKI.
“Solusi satu-negara” (one-state solution ) bukanlah milik Iran semata.
Pemikir-pemikir Yahudi, seperti Noam Chomsky dan Uri Avnery, pun
memandang solusi ini sebagai yang terideal, meski konon tidak
‘realistis’. “Solusi dua-negara” (two-state solution), seperti yang
konon berlaku sekarang, bahkan dipandang banyak aktivis hak asasi
manusia sebagai sebuah halusinasi, mengingat karakter rasis dan
apartheid rezim Zionis. “Solusi satu-negara” melalui referendum adalah
penyelesaian yang paling beradab bagi semua pihak tetapi jelas tidak
bagi rezim rasis Zionis.
Kedua, fakta bahwa 30 ribu lebih orang Yahudi hidup dengan tenang dan
damai di Iran, sebuah jumlah komunitas Yahudi terbesar di Timur
Tengah. Terlebih lagi, mereka pun memiliki representasi di parlemen
Iran. Jika memang pernyataan Nejad tersebut dipandang anti-Semit, maka
apa kata dunia tentang penindasan rezim Zionis terhadap bangsa Arab
Palestina? Bukankah orang-orang Arab juga anak keturunan Sem putra
Nuh? Jika pernyataan Nejad dianggap sebagai pernyataan pemusuhan, maka
apa kata dunia terhadap George W. Bush yang menyandingkan Islam dengan
fasisme, “islamofasisme”. Apa pula kata dunia kepada senator sekaligus
kandidat presiden AS, John McCain, yang menyenandungkan lagu berirama
reggae, “Bom…bom…bom Iran.” Adakah dunia pernah menyebut semua itu
sebagai pernyataan pemusuhan?
Dalam memperingati 40 tahun penjajahan rezim Zionis terhadap al-Quds
(Perang Enam Hari 5-10 Juni 1967), sudah semestinya bangsa-bangsa di
dunia, yang mencintai peradaban dan keadilan serta menghargai martabat
kemanusiaan, bangkit dan menegaskan sikap untuk membantu bangsa
Palestina yang tertindas serta menjaga al-Quds, sebagai tempat suci
agama-agama Tuhan, dari tindakan vandalisme rezim Zionis.

 
1 Comment

Posted by pada 2 Juli 2007 in Uncategorized

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.104 pengikut lainnya.